Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2023

 

Damai Dimulai Dari Diri

Berdamai Dengan Diri Sendiri!

 

Pendahuluan:

Siapakah aku, adalah pertanyaan penting bagi setiap manusia yg harus ditanyakan oleh setiap manusia yg memiliki kesadaran. Pertanyaan siapakah aku, untuk mengetahui dan mengenal siapa diri,  

 Damai sejahtera atau “syalom” pada satu sisi adalah “fakta atau kenyataan” yg Allah berikan, bukan perasaan subjektif manusia. Syalom itu “untung/beruntung”. Rugi (untung tidak bangkrut). Jatuh dan patah (untung masih hidup), sakit (untung ga mati, atau untung bisa bayar obat)…jadi damai sejahtera itu untung.

    Pada sisi lain, damai sejahtera itu adalah “kemampuan kita untuk menyingkapi yg Allah berikan kepada kita”. Suatu saat keluarga Jonathan Sdjo mengatakan kepada saya: “bahwa ketika ia balik ke rumah dan kedua anak mudanya sedang keluar, dan tinggalah mereka di rumah, maka mereka sangat merasa kesepian. Lalu mereka mengatakan, kalau kita saja berlima, bagaimana dengan Pak Wempy yg pergi jauh dari keluarga dan hidup seorang diri! Salah satu unsur dari “syalom” adalah “utuh atau kumpul, tidak tercerai, dan hidup bersama. Fakta yg Allah berikan kepada keluarga sejdo yaitu “Allah memberikan jumlah 5 orang jadi ini adalah kenyataan dan fakta bahwa tidak akan sendiri, dan tidak ada lagi sepi. Pada sisi lain, bahwa saya seorang diri, tetapi saya sangat terhibur karena bagi saya, jemaat itu adalah keluarga. Ini adalah “bagaimana menyingkapi yg Allah berikan”” yaitu jemaat.

          Pertanyaan siapakah aku, agar kita mengetahui identitas kita yg sebenarnya, baik siapa kita dihadapan Tuhan, siapa kita ditengah-tengah masyrakat, siapa kita ditengah-tengah keluarga, siapa kita secara profesi. Agar kita dapat menerima dan bersikap yg sesuai dengan panggilan kita masing-masing!

          Damai sejahtera yg paling asasi dan mendasar yaitu ketika kita mampu berdamai dengan diri. Ada beberapa hal yg harus kita sadari dan ketahui dalam diri manusia dan dalam diri kita untuk menemukan dan memiliki damai sejahtera:

 

Dalam diri manusia, atau siakah kita, hanya terdiri dari dua hal, yaitu:

 

 W      Mengetahui dan menyadari hal-hal yg diberikan atau kita terima. (Siapakah anak manusia, kejadianku hebat).

Kita lahir kapan, dimana, oleh siapa, iman, keselamatan, talenta, adalah hal-hal yg diberikan dan kita terima.  

Ø  Pemazmur katakana: “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yg Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. (Mzm. 139: 14).

Salah satu titik awal penting bagi manusia untuk mengalami “syalom” atau damai sejahtera, yaitu ketika kita menyadari siapa diri kita sebenarnya, dan apa yg Allah berikan kepada kita dalam kelahiran kita, bahwa demikian hebat Allah menjadikan setiap pribadi, dengan demikian kita bersyukur, dalam rasa syukur inilah yg melahirkan dan mengalirkan damai sejahtera.

Kedua kita menyadari dan mengsyukuri hal-hal yg Allah berikan, selain diri kita, yaitu dimana kita lahir, oleh siapa kita lahir dan bersama siapa kelahiran kita. (kadang ada telur busuk dalam satu keranjang, tetapi yakinkan bahwa kita bukan telur busuknya).

Mengetahui hal-hal yg Allah berikan kepada kita, menolong kita untuk mengenal kekuatan dan kelemahan yg Allah berikan. Kekuatan adalah potensi yg Allah titipkan kepada kita untuk mengembangkan diri, bertahan dan sukses.    

 

 

 

Ø  Hal kedua adalah: “kita menerima iman dan keselamatan”. Tuhan Yesus mengatakan: “bukn kamu yg memilih Aku, tetapi Akulah yg memilih kamu” (Yoh. 15: 16). Siapapun kita dan bagaimanapun keadaan kita, kita adalah orang-orang pilihan Allah. Jadi kita adalah orang-orang pilihan, kita adalah orang-orang berharga dimata Allah.

 

W      Kedua adalah hal-hal yg kita pilih. (mengikut Yesus keputusanku).

Sebagai imago Dei Allah memberikan kepada kita citra-Nya, dan citra yg paling kuat adalah pikiran, dengan pikiran itu, kita dapat memiliki “kehendak” dengan kehendak, kita dapat memilih, walau kenyataan bahwa “free Will” manusia pakai secara meenyimpang yg membuatnya jatuh dalam dosa.

 Kita memilih untuk menikah dengan siapa, berprofesi sebagai apa, memilih bergereja di mana, akhinya kita bisa memilih kewarganegaraan, tinggal dimana, dll.

Ø  Hari ini aku memberikan pilihan kepadamu, pilihlah Allah!

Ø  Ikutilah apa yg petunjuk atau jalan yg Allah buat untuk kita pilih dan jalani.

Ø  Allah tidak pernah memaksa kita untuk pilihan-pilihan yg kita ambil, tetapi sebagai orang beriman, Alkitab mengatakan:

Ø  Kita bertanggung jawab dengan setip pilihan kita.

Ø  Anda tidak dapat memilih saudara, orang tua, tetapi anda dapat memilih isteri.

Ø  Pilihan simalakam pernah terjadi dalam diri Daud, ketika ia diminta memilih hukam, karena dosanya mencacah jiwa Israel, pilihan yg sama beratnya, lalu Ia mengatakan: “biar aku jatuh pada tangan Tuhan, sebab besar kasih sayang-Nya.

Ø  Banyak orang mau sesuatu tetapi tidak memilih jalan yg menuju kepada hal yg diinginkannya.

 Ø  Setiap hal yg anda lakukan adalah pilihan,

Ø  Aku masih di sini untuk setia.

 Doa Fransiskus dari Asisi.

          Kedua hal diatas ada yg dapat dirubah dan ada yg tidak dapat dirubah. Damai salah satunya adalah mengetahui dan menyadari hal-hal yg diberikan oleh Allah kepada kita, dan hal-hal yg kita pilih, serta mengetahui hal-hal yg dapat kita rubah dan tidak dapat kita rubah, dan menyadari keterbatasan kita.

          Keberadaan atau identitas fisik kita adalah hal yg Allah berikan dan kita terima dari kelahiran kita, mungkin pendek, hitam, pesek, atau pendeknya tidak tampan atau cantik menurut kebanyakan orang. Kita mungkin membawa penyakit tertentu, dll.

          Kita terlahir dari orang tua yg terbatas

          Tuhan Yesus berdoa agar cawan sengsara dijauhkan dari pada-Nya, tetapi Allah tidak mengabulkan-Nya. Rasul Paulus yg meminta agar duri dalam dagingnya di cabut, tetapi Tuhan tidak berkehendak! Bagaimana dengan

W      Apa yg dapat kita rubah dan apa yg tidak dapat kita rubah.

À      Anda ditakdirkan terlahir dari orang tua miskin, tetapi Tuhan tidak menetapkan anda mati dalam keadaan miskin.

À      Iman adalah anugerah yg harus dikerjakan. Iman harus membawa kepada pertumbuhan.

À      Kondisi fisik dan hal-hal yg berhubungan dengan DNA tidak dapat dirubah, tetapi harus di jaga. Anda lahir dengan badan pendek, maka berdamailah, jangan pernah berpikir menjadi tentara atau polisi, karena ada batas minimal.

À      Satu hal yg harus anda tahu, yaitu kekuatan besar dalam diri saudara yg Allah berikan yaitu: “iman”-iman biji sesawi.

À      Hatimu itulah yg akan merubah dunia. Daud itu badannya kecil, tetapi ia memiliki hati yg beriman, hati yg teguh, hati yg berani.

À      Ank-anak muda, ketika nilaimu rendah, aku dapat memahamimu, tetapi jika engkau kurang ajar kepada ayah ibumu atau kepada mbahmu, aku akan ajar, bahkan aku menambahkan “H” kamu.

À      Merubah kelemahan menjadi kekuatan.

À      Merubah….

 

W      Bagaimana menyingkapi diri dengan hal-hal yg tidak dapat kita rubah atau capai.

À      Banyak sebab yg membuat kita tidak dapat merubah keaadaan, diantaranya salah pilih, sakit, lemah,

À      Orang harus tahu bagaimana ia merubah keadaanya, tahu sumber daya yg harus dipergunakannya untuk merubah keadaan,

À      Kecewa VS nrimo.

À      Putus asa.

Sabtu, 19 Februari 2022

SETIA DAN TEKUN

 


Kesetiaan dan ketekunan adalah satu kesatuan yg utuh walau keduanya harus dibedakan, hal ini seperti iman dan perbuatan, keduanya adalah satu kesatuan yg utuh, tetapi harus dibedakan satu dengan yg lainnya.

Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati, iman menjadi penyebab perbuatan, kita diselamatkan karena iman dan iman tanpa perbuatan adalah mati, tetapi kita selamat hanya oleh iman semata, bukan berdasarkan perbuatan manusia.

Sebagaimana telah kita jelaskan pada khotbah sebelumnya bahwa: setia adalah sikap atau komitmen hati, atau menetapkan hati terhadap satu pribadi atau kebenaran. Tetapi “setia” itu tidak berarti jika tidak dinyatakan dalam perbuatan terus menerus atau “ketekunan”.

Segala sesuatu dalam hidup manusia selalu berproses, termaksud kehidupan Iman, bahwa iman harus dinyatakan dalam perbuatan dan perbuatan itu harus dilakukan seumur hidup, sebagaimana kata Firman Tuhan: “yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan”. (Rm 2:7).

Pokok penting iman Kristen adalah “Kesetiaan”, dan kesetiaan dinyatakan dalam “ketekunan” dan ketekuan itu, selalu melewati api ujian, dan api ujian itu akan membuktikan semua proses dan kualitas, apakah ia tahan uji atau tidak. Jika kita membangun kehidupan iman kita dengan jerami, maka ia akan terbakar dan tidak tersisa apa-apa, tetapi jika kita membangunnya dengan emas, maka api ujian justru menambah kemurniannya.

Para Rasul menekankan proses dalam hidup beriman, dengan penekanan yg berbeda beda:

·         Rasul Paulus mengatakan: Rom. 5:3-5.  “kesengsaraan menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan.

·          Rasul Petrus menekankan secara berbeda:         dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, 2Ptr 1:6

Ketika Allah menganugerahkan iman kepada kita dengan cara membuka mata rohani kita untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan dan mengakui kebenaran-Nya, ketika kita menguduskan Dia dalam hati kita dan berkomitmen kepada-Nya, itulah “kesetiaan”. Kesetiaan hanya akan menjadi sikap hati, jika kita tidak menyatakannya dalam perbuatan terus menerus, itulah yg namanya “ketekunan”, kita tekun berbuat baik, kita tekun beribadah, kita tekun berdoa, tekun membaca, mendengar dan belajar Firman. Ketika pencobaan silih berganti datang dan kita tetap teguh sampai Tuhan memanggil kita pulang, itulah akhir dari perjalanan iman kita, dan kita telah menyelesaikan pertandingan dengan baik.(2 Tim 4: 7-8)

Kesetiaan tanpa ketekunan melakukan panggilan dan tugas sebagai orang beriman, hanyalah idealism semata. Jika ketekunan tidak ada, maka kesetiaan pada akhirnya tidak memiliki bentuk nyata, menjadi lemah dan akhirnya mati. Dan akhirnya tahan uji akan membuktikan semuanya bangunan yg telah diganun gagal atau berhasil.

Mengapa kita harus setia dan bagaimana kesetiaan & ketekunan itu dinyatakan?

     

1.   Kesetiaan & Ketekunan membuktikan dan memperkuat iman.

·         2Taw 12:14 Ia berbuat yang jahat, karena ia tidak tekun mencari TUHAN.

·         1Tim 4:13    Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.

·         Why 14:12   Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.

          Salah satu sikap manusia adalah “bosan”, bosan terhadap yg rutinitas dan tidak penting, dan yg membahayakan jika kita mengalami kebosanan kepada hal-hal prinsip.

          Dari kecil kita mengalami kebosanan, itulah sebanya ada anak-anak yg merengek dibelikan mainan, tetapi setelah mainan itu diperoleh, hanya beberapa saat saja ia telah bosan dan merusaknya. Hal ini juga dialami oleh orang dewasa, kadang bekerja untuk memperoleh sesuatu, seperti mobil, motor dll, tetapi setelah diperoleh, beberapa saat saja mengalami kebosanan. Mobil yg baik itu mahal, dan setelah dibeli itu mahal harganya, tetapi bagi orang yg setia dan tekun, yg merawat apa yg dimilikinya, suatu saat mobil itu akan menjadi mobil antic yg langka dan harganya sangat mahal.

          Kebosanan terhadap hal-hal prinsip dalam hidup, pada akahirnya akan merusak hidup, ketika seseorang bosan kepada suami atau isteri, bosan bergereja, itulah sebabnya banyak gereja yg mulai mengundang pelawak dan artis untuk mengisi altar dan mimbar. Bosan mendengar Firman, bosan berdoa, bosan melayani.

          Dari semua ini, saya tidak pernah mendengar orang Indonesia mengatakan bosan makan nasi! Bosan minum air! Itulah sebabnya nasi kita ssebut makanan pokok, dan air adalah kebutuhan pokok kita.

          Saya ingat bersama-sama dengan seorang jemaat ke Gramedia, untuk membeli gitar bagi anaknya, karena anaknya minta gitar, tetapi setelah beberapa saat gitar itu di beli, maka yg terjadi yaitu bosan.

          Mengapa bosan? Ada berbagai macam alasan, tetapi jika tekun belajar dan menemukan pengalaman-pengalaman baru, memiliki komunitas yg sama & hasil yg diperoleh itu dihargai maka mungkin tidak bosan. Tetapi dari semuanya itu, adalah “kesetiaan & Ketekunan”.  

          Kesetiaan & ketekunan pada akhirnya akan menguatkan iman kita. Jika kita katakana beriman pada Yesus Kristus, dan komitmen dalam hati untuk menjadikan Dia Tuhan dan juru selamat kita atau kita mau katakana “setia” kepada-Nya, tetapi kita tidak tekun beribadah, mendengarkan Firman, tekun membaca dan belajar Firman, tekun berdoa. Pada sisi lain kita hidup ditengah-tengah orang yg tidak beriman dan bergaul dengan mereka, mendapat pikiran dan nasehat bukan berdasar Firman Tuhan, maka, komitemen atau kesetiaan dalam hati kita perlahan-lahan akan terkikis, menjadi suam-suam kuku dan akhirnya mati.

          Kita tidak mungkin akan mengalami pengalaman doa, jika kita tidak tekun berdoa, begitu pula kita tidak akan pernah suka baca Firman dan bertumbuh didalamnya, jika kita tidak terus tekun membacanya. Kita tidak mungkin merasakan hadirat Allah, jika kita tidak setia dan tekun beribadah.

 

2.   Hanya dengan kesetiaan dan ketekunan, gereja terjaga dan bertumbuh bersama. 


1Kor 11:19  Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji.

Masikah kita teringat akan “William Carey” seorang Baptis yg menjadi penginjil di India. Hal apa yg kita pelajari dari dirinya dan pelayanannya? Yaitu kesetiaan, ketekunan dan tahan uji. Terhadap apa & siapa? Terhadap kerasnya kehidupan, tetapi yg terutama adalah “setia, tekun dan tahan uji terhadap orang India”.  

Seorang ayah di kupang seedih dengan kehidupan anak laki-lakinnya yg suka mabuk. Suatu saat ia mengambil hati babi, si bapak berusaha mengajar anaknya akan bahaya meminum minuman keras, lalu ia menaruh hati babi tersebut dalam toples dan menyiramkannya dengan “sopi (arak)”, dan kelihatanlah cacing pita dari hati babi itu keluar, menggelepar dan mati, demikian juga dengan hati babi itu mengkerut karena minuman itu.

Sebagai tantangan, bap aitu bertanya kepada anaknya, kau lihat dampak dari minum sopi? Anaknya menjawab, ia papa! “kalau kita cacingan maka minum sopi”!  

Allah tidak memanggil kita unuk merasakan anugerah keselamatan seorang diri. Kesetiaan & Ketekunan, bukan hanya menyangkut diri kita sendiri, kehidupan beriman pribadi kita, tetapi juga bagi persekutuan orang beriman atau gereja-Nya. 

Kesetiaan dan ketekunan orang percaya, selain utuk merubahkan dan mengokohkan iman, juga bertujuan agar anggota jemaat saling merubahkan, khususnya orang-orang terdekat kita.

Kita berubah dari bayi rohani menjadi orang dewasa, dari orang yg buruk menjadi baik, karena Allah setia dan tekun kepada kita, tetapi ketika kita telah berubah, pandai, kita menjadi tidak setia dan tekun dengan orang-orang disekitar kita, kita meninggalkan persekutuan, bahkan mungkin menghancurkannya.

Satu hal lagi, bahwa kita bisa berubah menjadi lebih baik pada saat ini, karena ada orang-orang yg sabar dan tekun untuk megajar kita, membimbing kita, mendengarkan kita, mendoakan kita dan akhirnya merubah kita!

Setiap anak hebat, lahir dari orang tua yg setia, tekun dan tahan uji terhadap anak-anak mereka, merubah mereka perlahan-lahan.

Kita tidak dipanggil untuk menjadi mansia egois yg hanya mau masuk surga sendiri, tetapi tidak memiliki hati yg menangisi jiwa-jiwa tersesat. Kita dipanggil dan diamanatkan untuk pemberitaan Injil, tetapi juga tumbuh bersama sebagai gereja.  

Perpecahan tidak harus ada, apa yg dikatakan oleh Paulus adalah suatu penglihatan masa depan yg penuh dengan egosentris yg mengakibatkan perpecahan dalam jemaat. Perpecahan itu adalah pekerjaan setan!

Yesus Kristus adalah pribadi yg paling setia, Ia mengumpulkan murid dari orang-orang rendah dan terpinggirkan. Diantara para murid yg tidak berpendidikan, Tuhan Yesus harus ekstra keras mengajar mereka, tetapi seseaat sebelum Ia naik ke sorga, para murid masih belum sungguh-sungguh mengerti diapa diri-Nya yg sebenarnya dan apa yg diperjuangkan-Nya. Tetapi Ia tetap setia kepada mereka, bahkan Ia mempercayakan domba-domba-Nya kepada mereka dan khususnya kepada Petrus.

 3.   Hanya dengan kesetiaan kita mendapatkan upah dan tujuan iman kita.

Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah”. (1Kor 3:14).


Derek Radmond: seorang pelari 400m berusaha meraih medali Emas Olimpiade Barcelona 1992, namun ketika berlari dan tersisa 150m mengalami keram yg menyakitkan, mimpinya untuk emas telah pupus, team medis datang membwa tandu baginya, tetapi Ia menolak, ia tidak berpikir untuk emas lagi, tetapi hanya dengan satu tujuan yaitu menyelesaikan pertandingan itu dengan mencapai finish.

Ditengah-tengah perjuangannya itu, seorang pria bertopi berlari mendekati, ia adalah pelatih dan sekaligus ayah Redmond, ayahnya juga memintanya untuk berhenti tetapi Redmond berkeras untuk menyelesaikan pertandingan. Negara, mengutusnya paling minim adalah untuk menyelesaikan pertandingan dengan baik dan semampunya.

Derek Redmod, tidak mendapat medali apa-apa, tetapi karena kegigihan dan ketekunan yg ditunjukkan untuk mencapai finis dalam keadaan cedera yg menyakitkan, semua penonton yg berjumlah 65.000 orang, berdiri bertepuk tangan baginya, melebihi tepuk tangan bagi peraih medali emas. Redmod adalah pahlawan sebenarnya dari pertandingan itu.

          Kita juga memiliki kisah Hyvon Ngetich seorang pelari wanita Kenya, yg mengalami cedera dan kehabisan tenaga ketika berlari marathon di Austin, yg merangkak untuk mencapai finish.

Jika kita, apa yg akan kita lakukan ketika mengalami hal yg sama? Kita mungkin akan berhenti, toh kita tidak memperoleh apa-apa? Untuk apa bersusah dan sengsara untuk merangkak sampai ke finis?  

Ketika para wartawan mewawancainya, ia berkata bahwa: negaranya mengirimnya untuk bertanding dan pertandingaan itu harus sampai pada finis, untuk menjadi juara harus sampai pada finis.

Untuk sampai pada finis harus ada kesetiaan dan ketekunan untuk berlatih dan ketekunan itu menghasilkan tahan uji sehingga kita dapat bertahan, merangkak dalam penderitaan sampai pada finis. Itulah sebabnya mengapa ayat ini mengatakan: “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupanyang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia”. (Yak 1:12).

·         Mat 24:13    Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

·         Luk 21:19    Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu."

Kesetiaan, ketekunan dan tahan uji membawa kita menuju finis yg ditetapkan Tuhan, sebab hanya dengan mencapai finis kita mendapatkan seseuatu yaitu mahkota kehidupan.  


 

Sabtu, 22 Januari 2022

Rencana Allah dan Rencana manusia.

 


Sebagai orang percaya, kita mengetahui dengan pasti, bahwa: rancangan Allah tidak ada yg gagal, rancagngan Allah adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan.

Apa yg direncanakan Allah bagi orang percaya? Ia merencanakan keselamatan kita dan rencananya itu tidak mungkin gagal. Ia turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, kita mengetahui bahwa Allah merencanakan damai sejahtera bagiku dan bagimu! Itulah kata-kata Alkitab. Tetapi apakah Allah merencanakan kesehatan kita? apakah Allah merencanakan agar kita menjadi kaya? Apakah Allah merencanakan agar anak-anak kita berpendidikan tinggi? Apakah Allah merencakan masa tua kita dalam keadaan sehat dan berkecukupan? Allah tidak menjanjikan semuanya itu dan Allah tidak memastikan hal-hal tersebut! Lalu siapa yg harus merencanakan itu semua? Ya kita sendiri!  

Selama dua tahun ini, kita mengalami masa-masa sulit akibat pandemic, sehingga banyak hal dalam hidup kita yg direstart ulang, mungkin keuangan yg selama ini telah di susun manjadi kacau, oleh karena itu awal tahun ini, ditengah situasi yg belum pulih seutuhnya, kita harus melakukan sesuatu untuk menata hari-hari kita agar terbebass dari kesulitan dan langkah terbaik adalah “perencanaan”.  Firman Tuhan mengatakan: "Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?"  Lukas 14:28-35

Alkitab memberikan sebuah ilustrasi lain tentang pentingnya sebuah perencanaan hidup:  "Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?"  (Lukas 14:31).  Karena itu setiap kali membuat sebuah rencana jangan sekali-kali kita melupakan Tuhan, sebab Dialah yang berkuasa atas hidup kita, Dia tahu hari esok.  Oleh karena itu Rasul Yakobus mengatakan: Jangan Melupakan Tuhan dalam Perencanaan ( Yakobus 4:13-17)

Rencana Allah dan rencana manusia adalah dua hal yg kualitasnya berbeda. Manusia sebagai ciptaan dan Allah sebagai pencipta, manusia berdosa dan Allah suci, manusia tidak maha tahu masa depan dan Allah maha tahu masa depan.

Kualitas rencana Allah & manusia tercermin dari beberapa ayat Alkitab bahwa:

*    Ayb 5:12          Ia menggagalkan rancangan orang cerdik, sehingga usaha tangan mereka tidak berhasil;

*    Ams 20:18       Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat.

*    Ams 19:21       Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.

*    Yes 55:8          Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.

*    Ayb 42:2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.

Suatu anugerah besar Allah adalah hikmat, dan hikmat dinyatakan salah satunya adalah “perencanaan”. Perencanaan sering kali dianggap biasa oleh orang-orang sebagai pekerja tetap. Sehingga dampak dari orang-orang pekerja tetap yaitu: ‘hidup yg stagnan” atau hidup yg dikendalikan dan ditentukan oleh situasi dan kondisi.

Seorang petani tidak mungkin akan menjadi petani yg baik jika mereka tidak mahir dalam perencanaan. Seorang pertain hanya akan menabur benih dengan perencanaan, gagal merencanakan adalah merencanakan gagal.

Ada orang yg selalu mengatakan: “untuk apa perencanaan, makan aja susah”, justru karena makan susah dan sumber daya yg sedikit, oleh karena itu diperlukan perencanaan yg lebih matang agar tidak keteteran. Orang yg hanya bekerja, akhirnya hanya menjalani hidup, dan kita melihat hanya rutinitas, rutinitas yg membosankan, hidup yg tidak mencapai sasaran, hidup yg tidak bertumbuh dalam iman.

Mengapa perencanaan adalah penting?

1.    Perencanaan adalah pernyataan iman!


Kata orang, masa lalu adalah kenangan, walau kadang semuanya tidak hanya menjadi kenangan, sebab dampaknya masih terbawa hingga hari ini. Hari ini adalah anugerah dan hari depan adalah harapan.

Biarlah kita belajar dari masa lalu, dan berharap akan masa depan yg lebih baik, dan harapan masa depan yg lebih baik itu, ada yg menjadi wilayah Allah dan ada yg Allah berikan kepada kita untuk menjadikannya lebih baik! “perencanaan” adalah hal terbaik yg dapat dan harus dilakukan oleh orang-orang beriman.

Siapa yg merencanakan hari depan pada hari ini, harus percaya bahwa hari esok masih ada. Siapa merencanakan masa depan, ia harus percaya bahwa masa depan akan lebih baik dari pada hari ini, itulah “Iman”.

Setiap orang yg merencanakan dan percaya bahwa hari esok akan lebih baik, juga percaya bahwa Allah yg menguasai hari esok adalah Allah yg baik, yg sedang turut bekerja agar ada hari depan yg Sentosa bagi setiap orang percaya.

Siapa merencakan hari esok yg lebih baik, adalah orang yg sedang bertumbuh dalam iman, sebab hari esok tidak baik dengan sendiri, tanpa terlebih dahulu, kita harus  berubah menjadi lebih baik dari masa lalu.

Orang yg bertumbuh dalam iman, adalah orang-orang yg selalu sadar akan kesalahannya di masa lalu dan berkomitmen untuk berubah menjadi lebih baik, semakin menjadi pribadi seperti yg Tuhan Yesus Ingingkan, bahkan bermetamorfosis menjadi seperti Kristus.

Biarlah kita sekalian seperti Musa yg berkata: Ajarlah kami menghitung, hari-hari kami, sehingga kami beroleh hati yg bijaksana. Dan biarlah kita semua adalah seperti Rasul Paulus yg berkata: “apa yg dulu kuanggap sebagai kemuliaan, sekarang ku anggap sampah karena Kristus.

 

2.    Adanya tujuan (goal/sasaran).

Seeokor Rusa hanya bangun pagi hari dengan tujuan mencari makan dan satu hal yg harus dilakukkannya yiatu berlari cepat!

Manusia banyak yg pandai, banyak yg kelihatan sukses, memiliki uang banyak, tetapi ketika saya bertanya kepada mereka, sebutkan 5 tujuan hidupmu yg paling penting, rata-rata tidak dapat menjawab, jika dapat menjawab mereka tidak dapat menjawab dengan benar seperti yg seharusnya.

Dalam bukunya: The Porpose Driving Live, suatu buku Best Seller di buka dengan poin:

ü  Diciptakan untuk kekekalan.

ü  Diciptakan bagi kemuliaan Allah

ü  Direncanakan bagi kesenangan Allah (Yes. 61: 3).

Ada begitu banyak manusia di dunia ini, mereka datang dan pergi, tetapi hanya beberapa orang yg dikenang, mengapa? Selama dua millennium ini, ssebagian besar orang kenal Yesus yg dari Nazaret, tetapi juga sebagaian besar manusia dua millennium ini, mengenal beberapa nelayan dari Galilea, yaitu Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes….mengapa? pertama karena beberapa nelayan ini, dekat dengan orang yg sangat terkenal, kedua, bahwa karena dalam hidup mereka, mereka memutuskan untuk mengikuti orang yg tepat, ketiga karena ketika mereka tahu siapa yg mereka ikuti, mereka mengikutinya dengan setia dan konsisten disepanjang hidup mereka, karena mereka tahu apa yg menjadi tujuan hidup mereka.

Rasul Paulus dengan jelas mengatakan: “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Mereka tahu betul apa tujuan hidup mereka dan setiap hari mereka mengejar tujuan tersebut sampai akhir hayat mereka.

Kita tidak ingin menjadi orang yg terkenal dan terkenang, tetapi setidaknya, janji Allah terlaksana kepada kita bahwa “kita dipuaskan Allah”, kepuasan itu hanya akan terjadi jika kita mengetahui tujuan kita dan telah mencapai tujuan tersebut.

 

3.    Langkah awal menyelesaikan masalah


Hidup manusia berdosa, penuh dengan masalah, langkah terbaik untuk menyelesaiakan masalah dalam hidup adalah: “mengetahui masalah”.

Setiap mansuia memiliki msalah dan tingkat masalah yg berbeda-beda. Ada yg memiliki masalah mendasar yaitu “bagaimana anak-anakku cukup makan hari esok”.

Ada seorang ibu yg hidup keluarganya cukup mapan, ia tidak memiliki msalah dengan makan atau keuangan, karena keluarga mereka memiliki pabrik, tetapi suaminya ketika diberkati Tuhan, ia tidak merasa cukup, dan memiliki WIL…ia bergumul untuk masalah tersebut. Ingin cerai, tetapi tidak menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan banyak masalah lain. Hingga ia menetapkan suatu resolusi bagi dirinya sendiri, yaitu ia merencanakan untuk berdisiplin berdoa. Selama bertahun-tahun ia berdoa, apakah msalahanya selesai? Apakah suaminya meninggalkan WILnya tersebut? Tidak! Tetapi ibu ini akhinya menyadari, bahwa ketika ia berdoa, memang suaminya tidak meninggalkan WILNya tersebut, tetapi justru dalam doa tersebut, Ia menjadi kuat, bijak, sabar, Tuhan justrus merubahkan dirinya terlebih dahulu, dan bukan suaminya.

Sampai suatu saat suaminya berkunjung ke pabrik dengan WILnya dan di pabrik itu terjadi ledakkan dan suaminya terkena dampak dari ledakkan tersebut. Selama suaminya di rawat akibat ledakkan, si WIL tidak pernah menjenguk apa lagi merawatnya, hanya isterinya yg setia merawatnya, sampai sang suami ini, sadar bahwa: aku telah mencampakkan berlian yg Tuhan berikan dan memunggut batu kali untuk bersenang-senang. Di saat itulah suaminya berubah dan keluarga mereka kembali utuh.

Kadang masalah terbesar dalam hidup kita, adalah diri kita sendiri dalam memandang masalah dan bersikap terhadap masalah yg kita hadapi.

Ada orang yg keluar gereja, karena memandang bahwa gereja dimana ia berada penuh dengan masalah, tetapi ketika ia pindah ke gereja lain, masalah lain tetap ada, ternyata msaalah utamanya, bukan terletak pada permasaahan gereja, tetapi dirinya sendirilah yg bermsalah dalam bersikap dan memandang masalah gereja.

Ada suami, isterri yg memandang rumah tangganya bermsalah, anak-anak, suami, eknomi, dan lain sebagainya, tetapi sebebanarnya masalah terbesar adalah dirinya sendiri.

Perencanaan adalah “langkah awal yg terbaik untuk menyelesaikan masalah hidup orang beriman”. Jangan pertama-tama membuat rencana untuk merubahkan kota, tetapi rubahlah dirimu terlebih dahulu, sebab “seorang yg sabar, lebih dari pada pahlawan yg menaklukkan kota”. Saya juga percaya bahwa engkau dapat menaklukkan suamimu, isterimu, anak-anakmu, orang-orang di tempat kerjamu dll.

 

4.    Ada evaluasi hidup.

Suatu saat seorang ibu, ketika saya mengunjungi dia, ia selalu mengeluh bahwa ia kekurangan uang. Pada satu sisi, kita tidak dapat duduk di rumahnya, karena banyaknya mainan dan barang-barang yg berserakkan. Sampai suatu saat saya mengatakan kepada dia, coba beri label harga pada semua barang yg ada di rumahmu ini, maka engkau dapat melihat tumpukkan uang, berkat, yg engkau telah belanjakkan dengan tidak berhikmat.

Ponakan saya, hingga SMP hanya memiliki beberapa mainan, dan mainan itu ssemua masih baik dan terawat, tertata di lemari belajarnya hingga ia besar, ia tetap tumbuh menjadi anak yg Bahagia, pandai, dari anak yg lain.

Ø  Brapa waktu yg lewat sia-sia?

Ø  Brapa kekuatan yg lewat sia-sia?

Ø  Brapa uang yg dibelanjakan sia-sia?

Jika kita tidak memiliki perencanaan, maka kita tidak memiliki sasaran untuk evaluasi, jika kita tidak memiliki evaluasi, maka kita tidak memiliki pikiran apakah kita telah berhasil atau tidak, maju atau tidak!

Hanya  dengan adanya evaluasi hidup kita sendiri, kita akan berani mengatakan kepada diri kita dan kepada orang beriman: “aku telah mengakhiri perandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”. ( 2 Tim. 4:7). Karena engkau telah berjuang, karena engkau telah berupaya untuk bertumbuh, karena engakau telah mempertanggungjawabkan semua yg Allah telah berikan kepadamu.

 


 

Liturgi Ibadah Raya Minggu

  1.   AjakanBeribadah: "Datanglah dekat dan dengarkanlah firman TUHAN, Allahmu." "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bah...