Minggu, 13 Agustus 2017

Penderitaan Menuntun Merendahkan Diri

Penderitaan Menuntun Merendahkan Diri



Raih, rebut, peroleh, itulah kata-kata yang sering dipergunakan kepada orang muda yang mewakili semangat dan perjuangan kaum muda. “Gantungkan cita-citamu setinggi langit dan raihlah” itulah moto orang muda agar bersemangat untuk meraih tujuan dan sesuatu dalam hidup, taklukkan dunia dan mulikilah itulah tujuan orang muda. Intinya meraih, memiliki, menguasai dijadikan ukuran kesuksesan seorang muda. Meraih hikmat, memiliki harta, menguasai manusia, menaklukkan kopetitor adalah tanda keberhasilan orang muda. Terbesit satu pertanyaan dalam pemikiran penulis yaitu, kapan seorang manusia melepaskan, meletakkan, memberi, melepaskan cita-cita, meletakkan kehormatan, memberi yang dimiliki?Hidup beriman dipenuhi dengan proses merebut, meraih, menguasai, semua itu adalah hal yang biasa, tetapi satu proses yang lebih sulit dari itu semua adalah melepaskan, meletakkan, menerima dan berserah. Melepaskan cita-cita, meletakkan keakuan, keangkuhan, meletakkan rancanganku dan menerima rancangan Allah. Meraih, merebut, hanya dapat dilakukan dengan hati bergairah, semangat, tetapi meletakkan, melepaskan, memberi, hanya dapat dilakukan dengan kepasrahan, kedewasaan, dan ketulusan, semua hal ini adalah suatu tingkat kedewasaan iman. Gambar terkaitRasul Paulus dengan segala pikiran dan sepak terjangnya, gairah, semangat, pemikiran, harapan dan cita-cita, dimasa muda, Ia berpikir bahwa Ia telah menyenangkan Allah dengan semua yang dipikirkannya, oleh karena itu dengan semangat masa muda ia membuat suatu terobosan untuk meraih setatus sosial dihadapan masyarakat dan dihadapan Allah, ia meminta surat kuasa dari Sanhendrin agar ia dapat menangkap dan meminasakan orang Kristen, tetapi dalam perjalanan ke Damsyik Ia bertemu Tuhan Yesus dan dijatuhkan, direndahkan dengan kebutaan dan akhirnya semua hikmat, prestasi dinilai terbalik ketika Rasul Paulus katakan “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus”(Flp. 3: 7).Tidak sampai di situ saja, ketika sudah menjadi pelayan Tuhan dengan karunia rohani yang luar biasa, Tuhan menundukkan Paulus dengan penyakit dalam tubuhnya sehingga dalam situasi berat itu ia mengatakan “Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor.12:8-9).Salah satu tujuan Allah ketika  mengijinkan penderitaan dalam kehidupan orang percaya yaitu agar setiap orang percaya “merendahkan diri” dihadapan Allah.  Dalam Filipi 2: 5-9  Paulus menulis: “Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Bahwa Yesus sebagai pribadi yang merendahkan diri secara total dalam ketaatan-Nya kepada Allah. Menurut Andreas Darmawan: Merendahkan diri tidak berkaitan dengan karakter atau perilaku seseorang! atau tidak berkaitan dengan sombong dan tidak sombong. Merendahkan hati yaitu dalam kaitan dengan karakter seseorang, sementara rendah diri adalah dalam kaitan dengan keadaan seseorang. Tetapi merendahkan diri yang dipakai dalam Alkitab untuk menunjuk kepada Yesus adalah adalah proses pemberian diri secara utuh kepada Allah.
Merendahkan diri adalah suatu proses meletakkan, melepaskan dan memberi. Melepaskan rancangan, rencana dan rancangan diri dibawah rancangan dan rencana Allah. Meletakkan kehormatan dalam penilaian manusia dan menempuh jalan kehormatan dalam penilaian Allah. Melepaskan hak-hak bagi kepentingan Allah dan memberi apa yang telah dimiliki bagi pekerjaan Tuhan. Semua proses ini sangatlah berat dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah merendahkan diri dihadapan Allah. Tuhan Yesus telah meletakkan segalanya dan taat kepada Bapa bahkan hingga mati di kayu salib.    




  

Senin, 31 Juli 2017

Nick Vujicic
Yoh. 9

Nick Vujicic terlahir di Brisbane Austria pada 4 Desember 1982 terlahir dari keluarga Serbia sebagai orang cacat yaitu tidak mempunyai tangan dan kaki, karena keadaan bawaan sejak lahir. Karena keberadaanya itu ia sering mengalami intimidasi oleh teman-teman sekolah sehingga ia sempat depresi dan ingin bunuh diri di usia 8 tahun, bahkan pada usia 10 tahun ia berupaya  menenggelamkan dirinya. Nick Vujicic ia telah mengalami tekanan berat dalam hidup sejak usia dini. Anugerah Tuhan bagi Nick ia tersadar bahwa hidup bagaimanapun keberadanya harus disyukuri, ia mengatakan bahwa Tuhan memiliki rencana didalam hidupnya.

Pada awalnya Nick berdoa sangat keras agar Allah memberikan tangan dan kaki kepadanya dan mengatakan pada Allah jikalau doanya tidak terkabul maka ia tidak akan lagi memuji Allah, namun titik balik sangat penting didalam hidupnnya ketika ibunya memberika kepadanya sebuah artikel kesaksian seorang yang juga cacat berat dan ia menyadari bahwa ia bukan satu-satunya orang yang menderita.
Nick berupaya menemukan cara hidup tanpa tangan dan kaki, ia dapat mengetik komputer, bahkan ia masuk kuliah dan terpilih menjadi kapten MacGregor Negara di Queensland dan bekerja sama dengan dewan mahasiswa menggalang dana untuk orang cacat. Ketika usia 17 ia mulai memberikan renungan ke kelompok doanya dan akhirnya mendirikan organisasi “Life Without Limbs”.
 Saat ini Nick telah melakukan perjalanan di lima benua untuk menjadi motifator, ia juga menulis, membuat film pendek, membintangi film. Dari seorang yang dianggap kutukan Nick bangkit menjadi berkat bagi banyak orang, dari kelemahan yang paling lemah ia bangkit menjadi motifator dan mengkuatkan banyak lutut yang lemah, hati yang patah. 
Ketika dalam perjalanan pelayanan Yesus melihat seorang buta sejak lahir di pinggir jalan, murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berdosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta? Pertanyaan berdasarkan kesimpulan bahwa penderitaan atau terlahir cacat adalah akibat dosa, dan terlahir cacat atau penderitaan adalah suatu hukuman Allah atas dosa, sehingga mereka mengurung Yesus pada dua jawaban. Tetapi  jawab Yesus: “bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia”. Pekerjan-pekerjaan Allah yang dinyatakan bagi orang buta ini adalah ketika ia disembuhkan oleh Yesus dan nama Allah dimuliakan karena mujizat itu, walau banyak juga yang tetap tidak percaya. Lalu bagaimana dengan Nick Vujicic hingga saat ini ia tetap menyimpan sepasang sepatu pada lemarinya dengan harapan suatu saat ia punya kaki, tetapi sampai saat ini ia tidak memiliki kaki. Walau hingga saat ini Nick Vujicic tidak memiliki kaki ia telah bepergian ke lima benua untuk memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak jiwa. 



RUMAH DAN KEMATIAN



Rumah dan Kematian



















Berbagai macam pandangan mengenai rumah dan kematian, hal itu terjadi berbeda-beda dari suku-suku yang berada di di Indonesia. Respon yang berbeda akan sangat dipengaruhi terhadap pandangan dan kepercayaan akan kedua hal tersebut yaitu pandangan terhadap kematian dan juga rumah dan bagaimana menghubungkan keduanya.

Pada dasarnya pandangan yang menghubungkan segala sesuatu menjadi sebab akibat dikategorikan dalam pandangan filsafat “Pantheisme”  dengan moto Allah didalam segala sesuatu dan segala sesuatu memiliki unsur keallahan”, hal ini menjadikan segala unsur saling terhubung dan menjadi sebab akibat. Dalam filsafat pola hubungan seperti ini sering dikateegorikan sebagai agama kuno.

Beberapa suku-suku di Indonesia berada di dalam kerancuan dan kebingungan dalam hubungannya dengan tradisi dan agama baru mereka, sehingga walau mereka telah menyatakan diri sebagai agama Kristen atau Islam tetapi kenyataan praktek percaya mereka bersifat Hinduisme yang kental dengan filsafat ‘panteisme’. 
Penulis memberi contoh beberapa suku di Indonesia  dalam tradisi hubungan antara rumah dan kematian. Suku Anak Dalam di Bengkulu adalah salah satu contoh suku kuno dengan paham panteisme dimana ketika seorag anggota suku meninggal, maka kelompok itu akan meninggalkan semua yang ada dalam satu lingkungan dan berpindah ke tempat lain, selain untuk membuang duka mereka, juga mereka memahami bahwa tempat itu telah terkutuk.
Kedua adalah suku Moronene yang memandang rumah memiliki hubungan dengan segala sesuatu dengan penghuninya, oleh karena itu membangun rumah memiliki aturan rumit serumit aturan agama, tukang pembangun rumah adalah orang-orang khusus yang mengetahui tradisi  dalam membangun rumah karena satu kesalahan kecil akan sangat berpengaruh terhadap penghuni, contoh pemasangan atap yang terbalik disebut juga sebagai lubang kubur, pemasangan kayu yang tidak sesuai tumbuhnya kayu akan mempengaruhi banyak hal.
Satu sisi lain yaitu suku-suku di NTT yang sering memakamkan orang tua dan leluhur mereka di pekuburan keluarga yang kadang  berada di samping rumah, sehingga tanah dan rumah itu menjadi satu dengan pekuburan yang terus akan dipelihara sebagaimana memelihara leluhur mereka, makam orang mati menjadi pemersatu anak cucu yang hidup.

Pertanyaan penting dalam kontek ini adalah: 

Apakah rumah dapat menyebabkan kematian dan mempengaruhi berkat secara jasmani atau rejeki?Apakah kematian dapat mempengaruhi rumah dimana kematian itu terjadi.  
Secara fengshui bahwa memang rumah dapat menjadikan orang mati, tetapi bukan penyebab secara langsung. Contoh: ada rumah yang sehat menurut struktur peembangunannya dan juga tata letaknya: Rumah yang mendapat sinar pagi akan lebih baik dari pada rumah yang mendapat sinar sore hari.

Sirkulasi udara yang baik dalam struktur bangunan akan sangat  mempengaruhi penghuni rumah, kesehatan, psikologi (stres atau tidak), dan juga produktifitas, semua hal ini akan sangat berpengaruh dengan ekonomi.



Apakah kematian akan mempengaruhi penghuni rumah dimana kematian itu terjadi? Jawabannya kalau kematian itu terjadi bukan karena sebab-sebab poin di atas, maka pasti tidak akan mempengaruhi penghuni rumah. 


Apa kata Alkitab mengenai hubungan rumah dan kematian:


1.    Israel sangat memperhatikan hubungan orang mati dan rumah atau lingkungan,  hal ini dimulaikan ketika Abraham meminta Gua di Makpela untuk di beli sebagai hak milik dan tempat ini akhirnya menjadi tempat pemakaman keluarga hingga cucu dan cicitnya, dan makam inilah yang menjadi tanda kepemilikian mereka atas Gua dan kebun di Makpela dan akhirnya dari makam itu menjadi titik penaklukan mereka terhadap Kanaan. Hal ini disebabkan oleh konsep tanah perjanjian.

2.  Hal kedua adalah jawaban Tuhan Yesus terhadap seorang muda yang meminta waktu untuk memakamkan orang tuanya terlebih dahulu sebagai kewajiban seorang laki-laki dalam rumahnya, maka Tuhan Yesus menjawab: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan oran-orang mati mereka”. Mat.8: 21-22),  tetapi pekerjaan Tuhan adalah lebih penting. 

3. Iman Kristen dilatar belakangi oleh Iman Yahudi yang menganggap jenazah itu adalah najis sehingga tidak boleh di sentuh kecuali itu orang tua langsung atau keluarga terdekat. Dunia orang mati dan dunia orang hidup telah terpisah oleh jurang yang dalam dan hanya orang hidup yang akan menuju ke dunia orang mati, tetapi orang mati tidak dapat menyeberang ke dunia orang hidup. Hubungan dunia orang mati dan orang hidup hanya ketika manusia itu hidup, sehigga tidak ada doa bagi orang mati, sebab setelah kematian tidak ada yang dapat dirubah lagi dengan doa, hanya keangan dan harapan iman yang sama yang menghubungkan keduanya.

4.   Orang Kristen Fokus kepad orang yang hidup dari pada orang yang mati, seharusnya kasih dan cinta kepada orang hidup harus lebih dari pada orang mati. Adat Alukta menjadikan orang hidup memikul beban orang mati, demikian juga dengan tradisi Tionghowa terhadap pemeliharaan altar orang mati adalah tradisi yang membebani orang hidup bagi orang mati.  







Kamis, 20 Juli 2017

Nenek Jus
I Kor. 9:1-27

Nenek Jus itulah panggilan seorang nenek di jemaat dimana penulis lahir. Nenek Jus telah lama meninggal dan mungkin tidak ada seorangpun yang menaruh ingatan kepadanya, tetapi ketika menuliskan tulisan ini penulis teringat kepadanya. Nenek Jus tinggal berdua dengan suaminya di sebuah pondok di kebun dekat hutan, mereka hidup dengan bertani sayur-sayuran dan beternak unggas seadaya dan itulah satu-satunya penunjang hidup mereka.
Add caption
x
Nenek Jus dan suaminya tidak pernah besekolah, tetapi karena ingin membaca Alkitab maka mereka berusaha belajar membaca. Nenek Jus adalah  orang Kristen yang taat, ketaatannya itu telah dibuktikan dengan kesetiaan mereka pada saat DI/TII menganiaya mereka karena iman mereka. Selain itu ketaatan mereka kepada Tuhan dibuktikan dengan kedisiplinan mereka dalam persekutuan dan pelayanan kepada orang-orang kudus.
Nenek Jus dan suaminya menarik perhatian penulis karena memilliki ciri khas sendiri. Pada saat ke Gereja nenek Jus memakai sarung dan tidak beralas kaki dan suaminya selalu mengenakan peci hitam tetapi ketika akan memasuki gereja peci itu akan di copot dan ia akan duduk menunduk sebagai suatu bentuk penghormatan kepada Kristus dan kesucian ibadah.
Menurut ukuran, nenek Jus seharusnya mendapat dukungan dari gereja tetapi gereja belum sadar akan pentingnya pelayanan diakonia, tetapi dalam kesederhanaanya nenek Jus justru menjadi seorang Kristen yang taat dalam persembahan. Setiap Minggu sebelum ke Gereja ia akan ke pasar menjual sayur hasil taninya dan dengan hasil itu ia memberi persembahan kepada Tuhan, dan juga ia taat membawa sayuran untuk bapak pendeta kami. Ketika gereja mengumpulkan dana untuk pembangunan gedung Gereja, nenek Jus adalah jemaat yang paling disiplin maju ke depan dan mengisi kotak persembahan khusus untuk pembangunan.
Dari apa yang dilakukan oleh orang sederhana seperti nenek Jus, mengajarkan kepada kita sekalian bahwa setiap orang Kristen yang telah merasakan kasih karunia Tuhan akan memahami bahwa apapun yang ada dalam kehidup kita sekalian adalah dari Tuhan, hidup, kesehatan, talenta, harta benda, semuanya adalah dari Tuhan, oleh karena itu seberapapun bangkrutnya seorang Kristen tidak dapat menutup pintu ucapan syukur kepada Allah.
Sebagai orang yang telah merasakan kasih karunia Tuhan, hati nenek Jus dipenuhi dengan “kemurahan”, itulah sebabnya dalam kekurangannya ia setia memberi persembahan untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan setia membawa sayur bagi pendeta yang dikasihinya. Mungkin saudara akan mengatakan berapa nilainya sayur? bagi saudara mungkin tidak ada nilainya, tetapi hanya itulah yang nenek Jus miliki untuk diberikan, itulah yang menjadi sumber kehidupan mereka hari lepas hari. Nenek Jus memberi dari apa yang dipunyainya dan tentu itulah yang akan dituntut Tuhan darinya.
            Suatu hari Tuhan mamanggil nenek Jus dan ketika jemaat akan memasukkan Alkitabnya kedalam peti bersama dengan jenazahnya, mereka menemukan foto anak-anaknya dan juga foto semua pendeta yang pernah menggembalakannya. Nenek Jus selalu menangisi pendetanya ketika mereka harus pindah tugas dan selalu meminta foto mereka untuk mengingat mereka. Hubungan indah antara seorang jemaat seperti  nenek Jus dan para hamba Tuhan adalah seperti yang dikatakan oleh Paulus “Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh kehendak Allah juga kepada kami” (2 Kor. 8: 5).


Jumat, 23 Juni 2017

HIDUP ADALAH SEBUAH PERTANDINGAN.
Filipi. 3: 13-16

Ada suatu perkataan yang terkenal yaitu: “jangan katakan, engkau memperoleh perak, tetapi engkau telah kehilangan emas”. Hidup bagaikan sebuah pertandingan. Rasul Paulus beberapa kali memberi perumpamaan kehidupan dengan memakai istlah olahragawan yaitu: “petinju dan pelari”.
Hidup itu hidup!  oleh karena itu ia penuh dengan dinamika. Selain penuh dengan dinamika, “kita hidup diantara hidup”, sehingga menjadikan yang hidup itu bersaing.  Seorang olahragawan “melatih diri sedemikian rupa untuk menjadi “pemenang dan yang terbaik” ia harus bersaing dengan yang lainnya untuk menjadi yang terbaik. Rasul Paulus katakan “aku telah mencapai tititk akhir” (2 Tim 4: 7), sebuah kata yang menunjukkan akhir dari sebuah pertandingan.
Untuk dapat menjadi seorang pemenang haruslah dapat mengalahkan pemenang. Menjadi yang terbaik haruslah mengalahkan yang terbaik. Banyak yang harus dikalahkan. Apa yang harus dikalahkan terlebih dahulu untuk menjadi pemenang? Seorang pemenang pertama-tama haruslah  menjadi orang yang mengalahkan musuh. “musuh yang paling besar adalah dirinyansendiri”. Dosa, kebiasaan buruk,  ketidak disiplinan.
Begitu banyak musuh dalam hidup kita. Disekitar kita musuh-musuh itu selalu ada! Tetapi musuh yang terutama adalah diri kita sendiri. “pemenang tidak tergantung ringan atau berat apa yang dikalahkannya, tetapi  ia akan melatih diri sedemikian rupa  sehingga menjadi seseorang yang bermental pemenang.
Bagaimana seharusnya seorang pemenang melatih dirinya untuk menjadi seorang pemenang? Dalam konteks ini, menurut  Paulus,  seorang pemenang adalah seseorang yang memiliki fokus.  Fokusnya adalah “panggilan surgawi” secara khusus mengenai “pengenalan  akan Yesus Kristus Tuhan”. Pengenalan akan Yesus Kristus adalah demikian berarti sehingga menjadi fokus dalam hidup Paulus. Pengenalan akan Kristus lebih berarti dari semua harta benda yang dimiliki, kebanggaan pribadi, status sosial. Pengenalan akan Kristus adalah fokus hidup Paulus.

 Seekor singa. Sebelum ia mengejar mangsanya, maka terlebih dahulu ia akan mengintai kawanan mangsanya, memperhatikan siapa yang lemah dan berada terpisah dari kawanan, maka fokus yang akan diburu telah ditetapkan.  Setelah menetapkan fokus maka singa akan mengejar mangsa yang telah di tetapkannya. Pada saat kawanan itu berlarian dengan kocar-kacir, bahkan ada beberapa kawanan yang berlari di dekat singa, lebih dekat dari sasaran yang telah ditetapkan, tetapi singa akan tetap mengejar buruan yang telah ditetapkan sebagai fokus. Itulah sebabnya mengapa singa selalu berhasil dan menjadi pemenang.
Seorang pemenang adalah seseorang yang terlatih dan berdisiplin menjadi yang terbaik.  Oleh karena itu ia harus keras dan ketat dengan dirinya sendiri. Ia harus menetapkan Fokus hidup agar hidup menjadi Efektif, uang, tenaga, dan waktu menjadi efektif sedemikian rupa untuk fokus hidupnya. Seperti rusa-rusa di Afrika selalu bangun dan berfokus untuk lari sekencag-kencang mungkin setiap hari untuk dapat hidup dan tidak menjadi mangsa, maka demikian juga orang Kristen yang telah dipanggil sebagai pemenang, ia harus berfokus hari lepas hari pada sasaran hidupnya untuk menjadi pemenang.
Setiap orang tidak dapat melakukan segala sesuatu sesuatu, tetapi setiap orang dapat melakukan sesuatu. Untuk menjadi pemenang tidak harus menjadi segala sesuatu dan melakukan segala sesuatu, tetapi untuk menjadi pemenang cukup dengan  melakukan sesuatu dengan berfokus. Kristus tidak memanggil kita untuk bekerja sebanyak mungkin, tetapi bekerja sebaik mungkin. Mesi tidak pandai menari, tidak pandai memasak, tidak pandai bermain piano. Ia hanya dapat bermain bola. Tetapi saat ini ia menjadi juara dunia.
Selain memiliki fokus hidup! Seorang pemenang adalah orang yang  memiliki motifasi yang tinggi. Dalam kontek ini Paulus memiliki motifasi yang tinggi, yaitu: panggilan surgawi untuk memperoleh hadiah surgawi. Hadiah itu demikian berharga dan mahal bagi Paulus, sehingga ia harus berjang sedemikian rupa untuk memperoleh hadiah itu.
 Seorang petinju yang bertinju, tidak akan pernah menjadi pemenang, jikalau ia tidak pernah menganggap sabuk yang sedang diperjuangkannya itu tidak berarti. Secara pribadi penulis menganggap bahwa menjadi hamba Tuhan adalah sangat berarti dan mahal bagi penulis, sehingga hal itu diperjuangkan sedemikian rupa, dan tidak mau seseorangpun meremehkan hal itu. Setiap  orang Kristen memiliki panggilan masing-masing, maka hal itu harus menjadi kebanggaan dan diperjuangkan demikian rupa, dihormati sedemikian rupa, itulah “orang Kristen yang menjadi pemenang”.



Rabu, 21 Juni 2017

ALLAH YANG MENDENGAR
Kel 3:7 


Mohamad Bouazizi (23) hanya seorang penjual buah di tepi jalan tanpa permit.  Bouazizi  merupakan pedagang telah dikasari oleh pihak berkuasa Tunisia dan gerainya disita. Suara penjual buah mungkin tidak didengar oleh Pemimpin Ditaktor Tunisia.  Oleh karena itu, Bouazizi  membakar diri  dihadapan banggunan kerajaan pada 17 Desember 2010. Akibat Bouazizi meninggal pada 4 Januari 2011. Kematian Bouazizi telah mencetuskan kemarahan rakyat yang sudah lama berdendam dengan kerajaan Tunisia yang corrupt. Demostrasi besar-besaran telah bermula selepas solat Jumaat pada 17 Disember 2010. Kemarahan rakyat Tunisia yang sampai kemuncak menyebabkan polisi tidak berani berada di jalan raya. Kerajaan Tunisia akhirnya tumbang.
Itulah gambaran dari keberadaan sekarang, yaitu dunia yang bebal dan tidak mendengar.  Revolusi negara-negara di Timur Tengah adalah sebuah kemarahan  kepada pemerintah yang tidak lagi mau mendengarkan rakyat kecil! Untuk dapat didengar aspirasinya maka seseorang harus membakar diri terlebih dahulu! Betapa sulitnya untuk didengarkan dan mendengarkan! oleh karena itu penulis juga menyerukan kepada setiap pemimpin untuk menjadi pemimpin yang mendengarkan dengan baik keluhan rakyat dan memahaminya bukan berdasar apa yang mereka inginkan, tetapi apa yang rakyat butuhkan. 
Dunia ini adalah dunia hubungan, Allah menciptakan dunia ini karena hubungan- hubungan. Hubungan  adalah komunikasi, “komunikasi yang pertama-tama adalah mendengar”. Baik hubungan antar pemerintah dan rakyat, Suami dan Isteri, anak dan orang tua dimulaikan dengan  mendengar. 
Dunia pada saat ini adalah dunia yang telah mengalami penyakit  “kebebalan”. Dunia sulit mendengar . Manusia tidak suka mendengar,  apalagi  mendengar “beban, permintaan”-Mendengar yang baik adalah melibatkan setiap keberadaan manusia! Melibatkan perasaan, melibatkan  hati, melibatkan  perhatian, empati, atau dapat  dikatakan bahwa endengar adalah melibatkan hidup!
Kata 'mendengar' dalam Alkitab salah satunya yaitu kata ('anah). Kata kerja ini secara khusus ditujukan kepada Tuhan sebagai subyek, karena kata kerja ini lebih memiliki makna 'mendengar doa'. Atau lebih tepatnya dapat diartikan "menjawab doa". Allah yang mendengar adalah Allah yang mengerti. Misalnya Kej 3:7 "Dan TUHAN berfirman: Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.
Allah yang kita sembah adalah Allah yang mendengarkan. Allah yang mendengarkan dan memahami.  Allah yang mendengarkan  bukan hanya sesuatu yang baik, tetapi juga mendengar beban! mendengar keluhan. Mendengar  teriakan meminta tolong. Mendengar  kesengsaraan! Allah yang mendengar dan berempati.
Allah kita adalah Allah yang mendengar. Mengapa tidak banyak orang Kristen yang tidak mau berbicara dengan Tuhan, tidak mau memiliki saat-saat akrab dengan Bapanya! Berkeluh kesahlah, memohonlah, memintalah dan juga jangan lupa memuji, sebab Allah kita adalah Allah yang mendengar. 

Jumat, 09 Juni 2017

UKIRAN MORONENE


Pekuburan Kuno Raja-Raja Moronene yang Beeragama Kristen, terdapat ukiran yang biasanya berbending terbalik dengan yang terdapat pada bangunan rumah. 



Makam Ny. Hamania Simon 




Bentuk dalam pemakaman Raja-Raja Kristen Moronene





truktiur dasar Rumah Moronene dengan berbagai filosofinya. 



Ukiran pada rumah berbeda dengan ukiran yang terdapat pada kuburan, Rumah orang moronene dibangun dengan menjaga filosofi hubungan, sebagaimana agama kuno Moronene bersifat Pantheis

Rumah adat Suku Moronene. 










Liturgi Ibadah Raya Minggu

  1.   AjakanBeribadah: "Datanglah dekat dan dengarkanlah firman TUHAN, Allahmu." "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bah...