Selasa, 24 April 2018

Kematian Yesus dan Pelayanan





Kematian Yesus dan Pelayanan


Sengsara Yesus adalah sebuah rangkaian peristiwa dengan syarat makna dimana semua nilai-nilai penting manusia dan semesta diungkapkan, dinilai, dikutuk, dan diberkati. Masa sengsara terhitung ketika Yesus memasuki Yerusalem dengan arak-arakan besar. Peristiwa   menyertakan semua hal di muka bumi ini. Ada pohon yang dikutuk karena tidak menghasilkan buah, ada keledai yang dijadikan tunggangan raja damai, ada semak duri yang dijadikan mahkota Anak-Manusia, ada malaikat yang memberi kekuatan kepada Yesus di Getsemani, bahkan ada Iblis yang merasuki Yudas Iskaryot setelah Yesus memberikan roti kepada-Nya.
Peristiwa sengsara Yesus terjadi dalam waktu yang singkat, tetapi waktu singkat itulah  yang menjadi penentu nasib segala sesuatu dimuka bumi ini. Dalam peristiwa sengsara Yesus segala hal diterangi, diperjelas, diintropeksi, direkonstruksi dan banyak hal dituntun atau Nilai-nilai perlayanan yang paling mendasar dan terbesar kita dapat saksikan dalam Peristiwa perstiwa Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya yang hanya dituliskan oleh Injil Yohanes dan memasukkan peristiwa pembasuhan itu sebagai bagian dalam peristiwa Paskah: Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya (Yoh.13: 1).
Peristiwa pembasuhan kaki adalah suatu bentuk teladan Yesus kepada murid-murid-Nya bahwa Ia adalah “seorang Hamba yang menderita” dan untuk menjawab pertengkaran diantara murid yang selalu mmpertengkarkan siapakah yang terbesar dianatara mereka, dimana Lukas dua kali mencatat pertengkaran ini hingga disaat Tuhan Yesus duduk untuk makan perjamuan terakhir dengan para murid mereka masih mempertentangkan siapa yang terbesar diantara  (Luk. 9:33-37; 22: 24-38).
Pekayanan hanya aka nada dan terjadi jika seorang memiliki kedasaran bahwa ia adah hamba Allah. Yesus Tuhan menunjukkan sikap kehambaan kepada Allah sehingga menanggalkan segala atribut KeAllahan itu dan mengambil rupa sebagai seorang Hamba yang taat, bahkan taat sampai mati. Apa yang dilakukan Yesus kepada murid-murid-Nya dengan menanggalkan jubah dan mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkan pada pinggang-Nya adalah menunjukkan diri sebagai hamba, bukan menghambakan diri kepada para murid tetapi Ia menghambakan diri kepada Allah. Apa yang dilakukan-Nya pada murid adalah dalam rangka menghambakan diri kepada Allah.
Hal kedua yang ditunjukkan Tuhan Yesus adalah kerendahan hati. Pembasuhan kaki adalah tugas seorang hamba yang paling rendah diantara para budak, dan Yesus mengambil posisi itu. Semua yang dilakukan Tuhan Yesus ini hanya akan terjadi jika ada suatu “kerendahan hati”. Tuhan  Yesus mengatakan “kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh. 13: 13-14). Tak ada guru dijaman Yesus yang membasuh kaki murid-muridnya, justru sebaliknya murid yang membasuh kaki guru mereka, tetapi Yesus membalikkan hal itu. 
Gereja Katolik Roma menjadikan pembasuhan kaki sebagai suatu upacara gereja yang mengawali peristiwa Paskah, tetapi dalam iman Prostentan bukanlah bentuk pembasuhan itu, tetapi nilai pelayanan kehambaan yang penuh kerendahan hati yang harus mengisi setiap pelayanan orang-orang percaya


  

Kamis, 29 Maret 2018

"Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? (Mat.26:41)





Lettu Meyus meceritakan pengalamannya ketika memimpin platon mengejar gerombolan pemberontak Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka harus berjalan dalam hutan selama tiga hari dan tiba waktu ketika mereka mendekati perkemahan pemberontak hari mulai sore dan jarak pandang sangat terbatas oleh karena itu mereka tidak dapat melancarkan serangan saat itu juga tetapi menunggu pagi hari ketika jarak pandang cukup baik.
Dalam keadaan lelah pasukan Lettu Meyus harus siaga dalam keadaan tiarap. Mereka tidak boleh mengelurkan bunyi apapun sepanjang kawal malam. Walau mereka kelelahan tetapi mereka tidak boleh tertidur sebab pihak musuh juga selalu mengadakan patroli dan akan sangat berbahaya kalau justru pasukan musuh mengetahui keberadaan mereka.
Apa yang dilakukan oleh Lettu Meyus dan pasukannya bukanlah ronda atau begadang biasa tetapi “berjaga-jaga”. Berjaga adalah tidak tertidur dan siaga penuh sebab resiko dari kelalian mereka adalah kematian.
Titanic adalah kapal penumpang terbesar di jamannya, dipesan pada 1908 dan selesai dibangun pada 1911, kapal ini digadang-gadang sebagai kapal yang tidak mungkin akan tenggelam, tetapi kenyataannya yaitu Titanic tenggelam justru pada pelayaran perdananya, dimana bau catnya yang baru masih tercium.
Pertanyaanya adalah mengapa kapal yang terbesar dan tercanggih di jamannya justru teenggelam dipelayaran perdananya 15 April 1912 dan memakan korban terbesar dalam sejarah pelayaran hingga saat ini?
Tenggelamnya Titanic justru karena hal sederhana yaitu kelasi pengintai yang ditempatkan pada tiang pengawas di haluan kapal kurang awas dalam “berjaga-jaga” sehingga ia terlambat dalam melaporkan gunung es di depan kapal dan membuat perwira jaga Robert Hitchins panic dan justru salah dalam membanting stir kapal sehingga Titanic justru menabrak gunung es yang mengakibatkan lambung kapal bocor dan tenggelam, akibatnya adalah korban jiwa 1.517 jiwa.
Dengan kedua hal diatas kita dapat memahami ketika Tuhan Yesus meminta kepada murid-murid-Nya untuk berjaga-jaga bersama dengan-Nya dalam doa di Getsemani. Berjaga-jaga yang dimaksudkan Yesus bukan sekedar begadang dan ronda, tetapi bersiaga penuh, sebab saat itu Yesus sedang berperang secara rohani untuk menyongsong sengsaran-Nya di atas kayu salib dan Iblis berupaya agar penyaliban itu gagal.
Teguran Tuhan Yesus ketika mendapati murid-murid-Nya yang sedang tertidur ketika Ia meminta mereka untuk berjaga-jaga bersama-Nya "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?   (Mat.26:41) adalah teguran bagi kita sekalian pada saat ini juga, bahwa didunia ini kita sedang bergumul dengan hal-hal materi, tetapi juga pergumulan penguasa-penguasa udara yang selalu mencari kesempatan untuk membawa kita kepada pencobaan yang bertujuan mematikan kita secara rohani atau mematikan iman kita.
Tuhan Yesus menghadapi ketakutan-Nya itu dengan berjaga-jaga dalam doa, tetapi para murid kurang peka akan hal itu. Tuhan berdoa tetapi murid tidur, akhirnya Tuhan Yesus menang. Berjaga-jagalah terus agar engkau tidak jatuh dalam pencobaan, roh memang penurut, tetapi daging lemah.

Rabu, 21 Maret 2018

Perencanaan.

Perencanaan.
II Kor. 1: 12-24

 

Add caption
Beberapa hal yang membuat kita tetap ada hingga saat ini yaitu karena Allah masih memberi kita kesempatan hidup, yang kedua adalah karena kita masih memiliki harapan. Kekayaan, kepintaran, ketenaran akan menjadi sia-sia jika seseorang tidak memiliki “pengharapan”.
Harapan adalah sesuatu yang baik bahkan yang sempurna dibalik situasi yang dialami seseorang. Tidak ada orang yang mengharapkan sesuatu buruk atau celaka. Harapan membuat orang berani menjalani hidup walau keadaan saat ini mungkin sulit. Harapan membuat orang seorang pasien kangker stadium akhir  menjalani berbagai macam proses pengobatan yang menyakitkan dan menghabiskan dana yang besar, walau kenyataan bahwa kemungkinan sembuh hanya sekitar 20%.
Tahun 2017 telah berlalu dengan berbagai keesulitannya, tahun 2018 baru diawali, penullis percaya bahwa kita semua berharap bahwa tahun 2018 akan lebih baik dari pada 2017, walau kenyataannya saat ini kita berada dalam berbagai macam kesulitan. Kita berharap bahwa tahun 2018 kita akan lebih sukses dari 2017, tetapi harapan itu akan sia-sia jikalau kita tidak memiliki perencanaan untuk meraih apa yang kita harapkkan.
Perencanaan adalah salah satu tindakan iman, karena setidaknya seseorang yang melakukan perencanaan percaya bahwa ada hasil dari apa yang dikerjakannya dan apa yang dipikirkannya akan menjadi kenyataan.
Perencanaan dalam iman, berbeda dengan perencanaan yang orang tidak percaya melakukannya. Perencanaan didalam Tuhan bukanlah perencanaan antara “ia dan tidak” antara “meraih dan tidak meraih”, perencanaan didalam Tuhan bukanlah perencanaan yang didalamnya serentak ada “ia dan tidak”, tetapi karena Yesus Kristus, Anak Allah didalam Dia hanya ada “ya”, sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “amin” untuk setiap doa-doa kita kepada Allah.
Perencanaan didalam Kristus tidak mengenal pland B. Perencanaan didalam Kristus adalah perencanaan dalam iman oleh karena itu kita sungguh-sungguh yakin bahwa perencanaan itu akan berhasil tanpa suatu keraguan sekecil apapun.
Rasul Paulus berencana mengunjungi jemaat Korintus sebelum ke Yerusalem, dalam perencanaan itu ia sungguh-sungguh yakin akan terjadi, tetapi kenyataannya bahwa ada halangan akan waktu kedatangannya dan itulah batas perencanaan manusia, tetapi Paulus tidak pernah merencanakan kedatangannya dalam keraguan.
Karena harapan kepada Allah maka kita merencanakan, karena harapan hanya akan sekedar harapan tanpa adanya suatu perencanaan yang baik. Kita berharap bahwa tahun 2018 akan lebih baik, kita akan melewati tahun ini dengan kegemilangan, oleh karena itu kita merencanakan apa yang harus kita lakukan untuk meraih kesuksesan itu tanpa ragu sedikitpun, sebab didalam Kristus hanya ada 

PEMURIDAN DALAM KELUARGA.



PEMURIDAN DALAM KELUARGA.



 Hubungan apakah yang terdekat bagi seorang manusia dengan manusia lainnya? Apakah hubungan darah ataukah hubungan pernikahan, persahabatan, atau hubungan iman?  Apa kata Alkitab mengenai hubungan-hubungan ini?
Alkitab banyak berbicara mengenai hubungan manusia. Pada mulanya Alkitab mengatakan  “sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej. 2: 24). Apakah hubungan suami isteri lebih dekat dari hubungan orang tua dan anak? Hal ini diungkapkan oleh Elkana kepada isterinya Hana bahwa:  “bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?” (1 Sam 1: 8b).
Alkitab berbicara mengenai ordo atau susunan dalam hubungan manusia yaitu hubungan suami isteri, orang tua anak, saudara sekandung dan hubungan sedarah lalu persahabatan. Tetapi Alkitab juga berbicara mengenai realita hubungan lain diluar hubungan keluarga yaitu “hubungan iman”. Hubungan iman adalah hubungan yang diikat oleh Allah antara manusia satu dengan lainnya dengan Dirinya karena percaya kepada-Nya.
Lalu hubungan apakah yang lebih dekat apakah hubungan iman ataukah hubungan pernikahan dan hubungan darah? Rasul Paulus mengatakan “marilah kita berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada kawan-kawan kita seiman (Gal. 6: 10; Fil. 1: 17).
Ezra mengadakan revolusi di jamannya dimana ia memerintahkan orang Israel untuk meninggalkan isteri dan anak-anak mereka dari bangsa-bangsa bukan Yahudi demi kembali kepada Allah Israel dan menjaga kekudusan benih bangsa Israel (Ezra. 10:1-). Dikemudian hari Paulus mengijinkan seorang percaya untuk meninggalkan suami/isteri mereka yang tidak percaya kalau suami/isteri yang tidak percaya tersebut meminta untuk cerai, tetapi kalau mereka tidak ingin bercerai maka Paulus meminta mereka untuk menjadi isteri/suami saleh demi memenangkan suami/isteri mereka dengan cara hidup mereka(I Kor. 7: 1-16).
Suatu saat Abraham meminta kasih karunia Tuhan agar Ismail diperkenan untuk mendapat kasih karunia Allah, tetapi Allah menjawab “tidak”, sebab Allah memang telah menjanjikan seorang anak lain yaitu Ishak. Ismael lahir karena keinginan daging sementara Ishak karena janji. Dikemudian hari Ismail akhirnya diusir oleh Abraham karena desakkan Sara dan atas injin Allah.
Dari beberapa contoh yang diberikan Alkitab dengan tegas Alkitab memberikan keterangan bahwa hubungan yang terdekat menurut Alkitab adalah: hubungan iman, suami isteri, orang tua dan anak, keluarga sedarah dll.
Keutamaan hubungan iman juga kita saksikan diatas kayu salib ketika Tuhan Yesus berkata: “ibu, inilah, anakmu! Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: inilah ibumu! (Yoh.19:26-27). 
Dalam PL Tuhan memberikan kasih karunia-Nya kepada satu bangsa berdasarkan janji dan hubungan darah yaitu bangsa Israel, tetapi dalam PB Allah memberikan janji keselamatan melalui iman kepada semua bangsa. Dan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya Allah memberikan janji-Nya bahwa keluarga orang-orang percaya itu juga hendak diberi karunia selamat didalam iman: “bertobatlah dan hendaknya masing-masing member dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita (Kis. 2: 38-39; Kis. 11: 14;). Sejalan dengan ini Rasul Paulus juga berkata kepada kepala penjara di Filipi: “percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kis. 16: 31).
Demikianlah Allah memberikan kasih karunia-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya yaitu keselamatan baginya dan juga Allah ingin memperlebas lingkaran kasih-Nya itu kepada semua anggota keluarga.
Bagi setiap orang yang telah diselamatkan dan yang mengasihi keluarganya bahwa tidak ada perberian dan tindakan terindah bagi keluarga yang kita kasihi, selain menyadari bahwa Allah juga mengasihi mereka dan memberi janji keselamatan kepada mereka lewat orang-orang yang telah diselamatkan dalam keluarga, dan keselamatan itu hanya akan tercapai  oleh penginjilan keluarga, oleh itu adalah keharusan bagi setiap kita untuk memberitakan Injil dalam keluarga.
  
Penginjilan dalam keluarga kadang menjadi sesuatu yang sangat sulit bahkan mustahil untuk berhasil, tetapi untuk itulah sebabnya Yesus Kristus mengutus Roh Kudus yang menjadikan pemberitaan Injil menjadi mungkin bahkan pasti dalam setiap keluarga.
Sukacita besar ketika mendapati bahwa seluruh anggota kelaurga mengenal Yesus, mengasihi Dia dan melayani Dia, dengan demikian setiap angkatan yang lama akan pergi kedalam dunia orang mati dalam damai sejahtera bukan saja karena mereka telah memperoleh keselamatan, tetapi mereka telah melihat bahwa ada angkatan muda yang juga percaya seperti mereka, dunia dan gereja memiliki masa depan didalam Tuhan.




Rabu, 14 Februari 2018

PENTINGNYA MENGENAL YESUS

PENTINGNYA PENGENALAN.



Tibalah waktunya pertanyaan ini dipertanyanyakan kepada semua pembaca yang telah lama menjadi Kristen dengan berbagai macam kegiatannya, yaitu apa yang terpenting dalam iman Kristen? Apakah masuk surga? Apakah mendapatkan berkat? Atau terbebas dari api neraka?Dalam ukuran agama Yahudi, Paulus adalah pribadi yang idelal, terdidik dalam iman dan juga reaktif dalam iman, bahkan Paulus adalah seorang yang radikal. Tetapi dari semua peraihan agama itu Paulus mengatakan: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3: 7-8). Menurut Paulus bahwa “pengenalan akan Kristuslah hal yang terpenting dalam iman Kristen”. Mengapa pengenalan akan Kristus adalah hal terpenting?


1. Mengenal Yesus adalah mengenal kebenaran.
        Coba kita bayangkan kalau semua yang kita anggap benar itu adalah sesuatu yang salah? Kita mengira surga dan neraka ada, tetapi kenyataannya tidak ada. Kita menganggap melakukan dosa adalah salah tetapi kenyataanya itu salah. Manusia membuthkan kebenaran dan jaminan kebenaran itu. Apa itu kebenaran? Dalam iman Kristen kebenaran itu bukan sekedar hukum alam, standart etika, moral, keadilan dan fakta-fakta sejarah, tetapi Kristus adalah kebenaran! Semua kebenaran adalah kebenaran Kristus! Manusia tidak menciptakan kebenaran tetapi sekedar menemukannya atau Kristus menyingkapkan-Nya kepadanya. Kebenaran itu menjadi suatu hukum yang membawa segala sesuatu kepada esensi yang sebenarnya yaitu menuntun  manusia kepada penciptanya.
        Tanpa mengenal Kristus manusia tidak dapat mengenal kebenaran dan Allah. Tuhan Yesus mengatakan: “sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia”. (Yoh.14: 7). 


2. Pengenalan akan Kristus adalah satu-satunya jalan hidup kekal.
      
   Salah satu tujuan semua agama adalah hidup kekal dengan berbagai macam penyebutan dan hidup kekal itu dihubungkan hidup di surga dan untuk menuju hidup kekal berbagai cara ditawarkan, pada intinya bahwa untuk mencapai hidup kekal manusia harus berbuat amal baik. Ketika agama-agama mencari jalan yang lurus, Tuhan Yesus berkata ‘Akulah jalan, kebenaran dan hidup”.
          Bagi agama-agama hidup kekal itu adalah hidup nanti ketika manusia sudah mati, tetapi dalam iman Kristen kita mengetahui dari perkataan Yesus bahwa hidup kekal itu telah dimulai saat ini ketika seseorang telah mengenal Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat. “inilah hidup kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yoh. 17: 3)

3. Pengenalan akan Kristus adalah tanda pertumbuhan iman.
        Ketika kita percaya kepada Yesus, maka keselamatan adalah suatu kepastian dan hidup kekal telah dimulai, tetapi anugerah keselamatan itu akan begitu sepi tanpa adanya pertumbuhan iman. “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”. (Ef. 4: 13). Kita menjalani kehidupan kekal dalam pertumbuhan iman menjadi serupa dengan Kristus.
  



Nenek Moyang Orang Moronene Tidak Tahu Meminta Maaf.


Bahasa merupakan pokok penting dari dari suatu budaya. Menurut Sturtevent: "bahasa adalah sistem lambang sewenang-wenang, berupa bunyi yang digunakan oleh anggota-anggota suatu kelompok sosial untuk kerja sama dan saling berhubungan".
Manusia merupakan mahluk yang memiliki "sense of social" sehingga ia disebut mahluk sosial,  oleh karena itu ia membutuhkan bahasa untuk aktualisasi diri dan kelompok. Dengan potensi itu, manusia membentuk lambang-lambang untuk membedakan dan memberi nama,  membatasi cara-cara berpikir dan pandangan  yang  bersangkutan terhadap fenomena dan realitas yang ada disekitarnya. Pada akhirnya manusia memakai bahasa untuk mengungkapkan kedalaman makna nilai-nilai budayanya dan hal-hal yang supra natural.
Bahasa tidak pernah lepas dari kontek budaya dan keberadaannya selalu dibayangi oleh budaya. Bahasa adalah produk budaya dan sekaligus wadah penyampai kebudayaan dari masyarakat pengguna bahasa tersebut. Degradasi budaya akan mempengaruhi bahasa yang dipergunakan oleh komunitas budaya.
Menurut para ahli komunikasi, ada tiga kata ajaib dalam hubungan manusia yang membuat hubungan itu berjalan hamonis dan konstruktif yaitu "tolong, maaf dan terima kasih". Dua kata terakhir ini tidak terdapat dalam bahasa Moronene. Dalam penerjemahan Injil Perjanjian Baru oleh Dr. David Anderson dan team, kata "maaf" diterjemahkan dengan "ma'apu", kata ini bukanlah murni bahasa Moronene, tetapi pengadopsian bahasa Indonesia, itulah juga mengapa penulis mengatakan "Nenek Moyang orang Moronene" sebab mereka pencipta budaya dan penutur pertama bahasa Moronene. 
Dalam pernyataan penulis sebelumnya, penulis mengatakan bahwa Nenek Moyang orang Moronene tidak pandai meminta maaf. Pernyataan ini pertama-tama didasari oleh kenyataan dalam bahasa Moronene tidak terdapat kata "maaf".  Ambil contoh  dalam bahasa Jawa terdapat kata maaf yaitu "ngapuro atau ngapunten", lalu apakah dengan demikian nenek moyang orang Moronene berbudaya rendah dibanding suku-suku lain? Dengan tegas penulis katakan tidak! Bahkan dengan bangga penulis mengatakan nenek moyang Moronene berbudaya sangat tinggi dan mulia.
            Walau dalam bahasa Moronene tidak terdapat kata "maaf" tetapi terdapat kata "tabea". Kata tabe memang dipergunakan oleh suku-suku lain yang berada di wilayah Sulawesi, tetapi dalam bahasa Moronene kata ini menemui penambahan yaitu "ea" (besar). "Tabe" sendiri berati "permisi, izin atau perkenan" sebelum melakukan suatu tindakan. Kata "tabea" bersifat panteisme. Kata "tabea" mengungkapkan kesempurnaan, yaitu kesempurnaan dalam motifasi, perencanaan, proses, dan harapan. Tabea bukanlah antisipasi "kesalahan dan kegagalan".
            Lalu apakah nenek Moyang Moronene berlindung didalam kata "tabea" ketika mereka melakukan kesalahan atau melanggar norma sosial serta adat? tentu saja  tidak!  Nenek Moyang Moronene, tidak mengenal kata "maaf", semua pelanggaran akan diselesaikan dengan "ko-hala", Ko-hala pertama-tama merupakan suatu tindakan "rekosiliasi" dan dalam tarap tertentu ia adalah hukum. Kohala memiliki tahap dan tingkatan yang disesuaikan dengan pelanggaran. Kohala sendiri mengungkapkan bahwa Nenek Moyang Moronene tidak memiliki budaya meminta maaf dalam proses verbal tanpa makna, tetapi dalam bentuk tindakan-tindakan perlambangan dan ritus yang sarat makna.

Pesan-Pesan:
1.       Ini adalah tulisan bebas, berhubung IQ penulis hanya 0,1 GB dan tidak tamat SD, maka mintalah saudara yg IQ 1 tera untuk memberikan referensinya.
2.       Nama group ini adalah "Bombana Cerdas" maka cerdas dan santunlah dalam menanggapi setiap statement.
3.       Ketiga, kalau bertemu saya jangan disate terlebih dahulu sebelum diajak ngopi dan jangan lupa dibayarin.
4.       Terakhir. mengenai "terima kasih" mohon Miru yg tulis....????


Salam damai..Hendra Amor.


Rabu, 07 Februari 2018

Mengenal.




Mengenal.


Add caption


   Manusia menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mengenal banyak hal di dunianya, karena tanpa mengenal, manusia akan terbuang dan tersisih dari lingkungannya. Tanpa mengenal maka manusia tidak memiliki identitas, tanpa mengenal maka manusia tidak memiliki sejarah sebagai kenangan diri dan sebagai alasan untuk kembali dan sebagai alasan untuk dicintai.
    Psikologi adalah salah satu kajian yang sangat luas, tetapi dimulai dengan suatu pertanyaan sederhana yaitu “siapa aku”, suatu pertanyaan pertantanyaan mendasar yang diajukan bagi diri sendiri untuk mengenal hakekat diri. Pengenalan akan diri sendiri adalah dasar bagi seorang pribadi mengenal pribadi yang lain. Mengenal diri adalah mengetahui dari mana asal manusia dan untuk apa manusia ada ditengah-tengah dunia ini dan tentunya ini semua akan menuntunnya memilih apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukannya, serta apa yang harus diperjuangkan sepanjang hayatnya.
    Salah satu karya teologi yang terbesar dalam sejarah gereja adalah “Institutio” ditulis oleh Calvin, dimana dalam karyanya ini Calvin berargumen bahwa langkah terbaik bagi manusia untuk mengenal Allah yaitu manusia harus mengenal dirinya terlebih dahulu sebab manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah atau peta teladan Allah, tanpa menanyakan siapa dirinya yang sebenarnya, manusia tidak akan mungkin mencari tahu siapa Allah yang telah menciptakannya.
Tentu bahwa mengenal diri sendiri sebagai satu pribadi adalah penting, tidak ada orang sukses yang tidak mulai dari yang sederhana yaitu mengenal dirinya, mengenal tujuan Allah menciptakannya, mengenal apa talenta-talenta yang Allah berikan kepadanya dan apa yang tidak diberikan Allah kepadanya. Pengenalan akan diri adalah jalan bagi seseorang utuk menuju kedewasaan.
Pengenalan diri sebagaimanapun peenting dan mendasar akan menjadi sia-sia jikalau berhenti disitu saja. Pengenalan diri harus berlanjut kepada pengenalan akan Allah. Pengenalan diri adalah titik berangkat bagi pengenalan akan Allah. Pengenalan akan Allah adalah tujuan hidup manusia entah disadarinya entah tidak.
Pertanyaan Yesus kepada murid-murid-Nya: “menurut kamu, siapakah Aku ini? (Luk. 9:20), adalah tuntunan kepada para murid akan tujuan hidup mereka sebagai manusia, bahwa nasib manusia akan ditentukan oleh pengenalan mereka akan Kristus. Hanya satu jalan bagi manusia untuk hidup kekal seperti yang dikatakan Yesus: “inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkay, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17: 3).

Rasul Paulus dengan tegas mengatakan apa yang menjadi tujuan hidup manusia ketika ia berkata: “tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus…karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3: 7-8). Pengenalan akan Kristus adalah tujuan tertinggi hidup orang beriman, tanpa mencapai itu maka gagalah hidup.




























Liturgi Ibadah Raya Minggu

  1.   AjakanBeribadah: "Datanglah dekat dan dengarkanlah firman TUHAN, Allahmu." "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bah...