Kamis, 30 Maret 2017

ANJING PUDEL DAN ORANG TUA.






Anjing pudel sungguh menggemaskan, tentunya penulis berbicara kepada pencinta anjing. Anjing pudel jenis anjing yang bertubuh kecil, berbuluh halus dan panjang. Anjing pudel bukan untuk berburu, bukan untuk anjing penjaga, Ia hanya anjing hias yang membuat hati senang.  Anjing pudel tidak cocok berada diluar rumah, ia tidak tidak  cocok kalau kotor.
Kakak penulis pernah memiliki anjing pudel, ketika saya sakit maka akan dibawa ke Puskesmas, tetapi ketika anjingnya sakit maka akan dibawah langsung ke dokter hewan khusus. Makanan anjing pudel kakak penulis adalah bakso, sementara kami orang rumah makan ikan kecil yang harganya jauh lebih murah dari makanan anjing.
Setiap kakak pulang kantor maka yang akan ditanyakan terlebih dahulu adalah "apakah anjingnya telah diberi makan"?, dan jarang sekali ia bertanya  apakah anak-anaknya dan kami apakah telah makan?  Setiap hari kakak penulis akan menggendong anjingnya dan mengelus anjing tersebut, sementara anak-anaknya diserahkan dalam gendongan pembantu dan sangat jarang ia menggendong mereka. Dari semuanya itu yang sangat menjengkelkan adalah ketika si hamer (nama anjing pudel itu) menggonggong jam 2 pagi, maka tugas penulislah membawa keluar ke lapangan agar ia dapat buang kotoran. Syukurlah suatu saat sang dokter hewan salah menyuntik si hamer dan mengenai uratnya sehingga terjadi infeksi dan matilah hamer. Kakak penulis menangisi anjingnya dan menguburkannya layaknya manusia. Apa yang dilakukan kakak penulis dengan anjing pudelnya secara umum dilakukan juga orang pemelihara anjing pudel lainnya.
Lalu bagaimana dengan orang tua? Orang tua yang benar selalu memeluk dan membiarkan anak-anak mereka tidur dalam pangkuan dan dekapan mereka, mereka tidak akan tertidur jika anak mereka sakit dan tidak akan makan sebelum anak-anak mereka kenyang. Setiap hari mereka akan memandikan anak-anak mereka, dan apapun yang terbaik yang mereka miliki adalah untuk anak-anak mereka.
Apa yang terjadi pada saat ini? Banyak orang tua ditinggalkan oleh anak-anak mereka ketika mereka telah besar dan berkeluarga, mereka jarang dihubungi bahkan sekedar ditelepon untuk menanyakan kabar mereka. Banyak anak menganggap orang tua mereka sebagai beban dalam rumah tangga mereka, dan lebih bannyak lagi menantu yang menganggap mertua mereka sebagai penganggu.
Ketia orang tua sakit, banyak anak-anak merasa jijik dengan orang tua mereka, untuk memeluk dan mencium mereka, apalagi membersihkan kotoran mereka ketika mereka sakit dan tidak dapat lagi mengurus diri mereka. Anak-anak jaman ini, bahkan ketika orang tua mereka meninggal  tugas memandikan jenasah orang tua merekapun mereka serahkan kepada orang lain. Bukankah orang tua harus menjadi pahlawan yang dihormati bagi anak-anak?
Itulah nasib banyak orang tua dan nasib anjing pudel, dengan sedih tetapi dengan jujur penulis katakan bahwa tanpa disadari nasib anjing pudel kadang lebih baik dari nasib orang tua dijaman ini. Diwaktu-waktu tertentu, bahkan di lampu merah lalu lintas akan dihentikan untuk mengheningkan cipta bagi para pahlawan?  Bukankah orang tua adalah pahlawan bagi anak-anak mereka? 
  


PENGORBANAN YANG MERUBAH


PENGORBANAN YANG MERUBAH


         Iman Kristen adalah iman yang mendapat  penolakkan oleh dunia, penolakkan itu bukan karena nilai kebenaran Kristen, tetapi karena cara hidup Kristen yang berbeda dengan cara hidup dunia pada umumnya, yaitu kehidupan yang penuh kasih dan kelemahlembutan, kesetiaan. adalah suatu yang ironis bahwa suatu konsep yang benar dan cara hidup yang benar justru mendapat penolakkan adalah sesuatu yang logis bagi masyarakat dunia yang sudah terbiasa hidup didalam ketidakbenaran akan perlahan-lahan menganggap ketidakbenaran itu sebagai kebenaran karena telah terbiasa. 


     Sejarah mencatat bahwa iman Kristen berkembang dan bertumbuh dari tetasan darah para Martir, Agus Tinus mengatakan: "darah martir adalah benih gereja". Penolakkan iman Kristen disebabkan oleh perbedaan yang mencolok antara iman Kristen dan iman yang lain di bumi ini. Dari begitu banyaknya jemaat Kristen yang terpaksa ditumpahkan darahnya karena imannya, martir pertama yang dicatat oleh Alkitab adalah Stefanus. Kematian Stefanus adalah awal mula penganiayaan terhadap gereja.
     Kemunculan iman Kristen dianggap sebagai ancaman oleh tua-tua Yahudi dan mereka berupaya membungkan serta mengakhiri iman Kristen dengan cara apapun, tuduhan dan pembunuhan terhadap Stefanus adalah puncak yang pertama dari pengaaniayaan gereja. Paulus adalah pemimpin gerakan ini, itulah sebabnya dalam  tradisi Yahudi, ketika saksi Palsu menuduh Stefanus mereka menaruh baju mereka di kaki Saulus sebagai bukti bahwa Saulus mengetahui dan merestui kematian Stefanus.
     
     Dengan kebencian dan penolakan, Saulus merestui agar Stefanus di bunuh, tetapi keteguhan iman Stefanus yang disaksikannya mengusik pikirannya hari lepas hari yang memaksanya untuk memikirkan kembali apa yang dilakukannya dan mulai memikirkan iman Kristen. Pengorbanan Stefanus tidaklah sia-sia, tetapi justru membangkitkan iman seorang anak muda yang bernama Saulus, yang kemudian hari menjadi pemberita Injil terbesar dalam sejarah Iman Kristen.

      Henry Martin berlayar ke India pada tahun 1805 sebagai pendeta British East India Company (BIEC). Pada saat itu keberadaan Misionaris dianggap sebagai penghambat ekspansi ekonomi (BIEC) dan tentunya juga ditolak oleh orang-orang India sendiri.  Selama empat tahun peertama di India, ia melayani di pos Militer, mendirikan sekolah-sekolah dan menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Urdu, Ia dikritik oleh rekannya, tetapi setiap hari ia menghabiskan waktu berada ditengah-tengah suku asli untuk belajar bahasa suku.  Henry mengalami berbagai macam penderitaan, ia rindupada kampung halaman, sakit, dalam buku hariannya ia menulis "Aku merasa semua hubungan duniawi tidaklah penting, aku dilahirkan hanya untuk Allah saja". 

Pada tahun 1811 ia berlayar menuju Persia, ia berharap  kesehatannya semakin baik saat ia menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru dalam  bahasa Persia dan Arab tetapi belum sempat sebab ia terkena TBC dan pada 16 Oktober 1812 Henry meninggal di Turki dalam perjalanan pulang ke Inggris untuk berobat. Henry meninggal diusia 31 tahun. Hidupnya sangat singkat, tetapi karyanya yaitu Alkitab dalam bahasa Urdu terus dipakai hingga saat ini. Tidak ada suatu karya besar bagi umat manusia tanpa danya pengorbanan.

Konsep korban mewarnai iman Israel dan juga iman Kristen. Tidak ada jalan kemerdekaan tanpa korban (Kel. 12: 1-42). Tak ada mahkota tanpa salib, tak ada kemuliaan tanpa pengorbanan. Berkorban justru menunjukkan kekuatan dan kedewasaan iman seseorang. Tidak ada perubahan tanpa pengorbanan. 


Pengorbanan Yesus adalah inspirasi bagi orang-orang percaya. C. T. Stood pendiri WEC International mengatakan: "Kalau Yesus Kristus adalah Tuhan telah berkorban bagiku, maka tidak ada hal yang terlalu besar yang dapat aku korbankan bagi-Nya".



Jumat, 24 Maret 2017


ALLAH YANG SETIA




Setia adalah suatu kesempurnaan hubungan, baik hubungan sahabat, suami dan isteri, umat dan gereja, Allah dan umat. Tetapi kenyataannya kesetiaan tidak seindah kata-kata dan harapan, kesetiaan selalu melewati jurang yang terjal, perjuangan yang menguras keringat dan air mata. Kesetiaan menuntut pengorbanan yang besar, pengorbanan perasaan, pengorbanan tenaga, pengorbanan keakuan dan ego dan banyak hal lain lagi.
Kesetiaan adalah sesuatu yang tidak pernah ada dengan sendirinya, kesetiaan adalah hasil dari pergumulan hari lepas hari. Kesetiaan akan selalu berada dalam perjalanan, ia terus berproses dan kadang membingungkan dan melelahkan.
Kesetiaan bukan sesatu yang tetap. Kesetiaan bukan upah dan piala pajangan karena telah meraih sesuatu, kesetiaan adalah sesuatu yang terus berproses, pergumulan kesetiaan terus berjalan selama manusia hidup. Kematianlah yang menyatakan seseorang sebagai pemenang setia atau justru pengkhianat kesetiaan.
Rasul Paulus menulis: “Ia juga meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. Allah yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia” (I Kor. 1; 8-9).
Paulus mengatakan bahwa Allah yang memanggil kita dalam persekutuan dengan Anak-Nya adalah setia. Bagaimanakah Allah menunjukkan dan menjalani kesetiaan kepada orang-orang pilihan-Nya? yaitu dengan ‘meneguhkan’, bahwa Ia meneguhkan kita sekalian sampai pada kesudahannya.
 Meneguhkan adalah tetap mengatakan ‘ya’ pada komitmen awal meskipun banyak cobaan yang harus dilewati. Meneguhkan adalah terus mengatakan dalam diri aku tidak berubah pada sesuatu yang baik, aku tetap sama seperti dahulu.
Kesetiaan hanya akan terjadi jikalau setiap orang meneguhkan didalam hidupnya, bahwa aku tetap percaya pada apa yang dulu aku percayai. Kestiaan hanya akan terjadi jiakalau kita meneguhkan bahwa aku akan terus melakukan apa yang telah aku mulai. Kesetiaan hanya akan diwujudkan ketika kita terus meneguhkan dalam hati bahwa aku tetap mencintaimu seperti cintaku dahulu, Kesetiaan hanya akan didapatkan ketika kita meneguhkan dalam hati kita bahwa sikapku kepadamu akan tetap sama walaupun sikapmu telah berubah kepadaku.
Allah yang setia adalah Allah yang terus meneguhkan dalam hati-Nya bahwa kita adalah anak-anak-Nya walaupun kenyataannya bahwa kita terus memberontak kepada-Nya. Allah yang setia adalah Allah yang senantiasa meneguhkan kita bahwa kita adalah orang-orang kudus denga cara menyucukan kita terus menerus walau kenyataannya kita seperti seekor babi yang senang kembali kepada kubangan meskipun kita telah dicuci dengan darah kudus, Allah terus melakukan-Nya sampai pada kesudahannya.
Baiklah kita menjadi orang-orang setia seprti Allah kita yang setia dengan terus meneguhkan dalam hidup kita bahwa, Aku akan terus berdoa meskipun saat ini aku belum mendapt jawaban, Aku akan terus percaya kepada Allah meskipun benyak kesulitan dalam hidupku. Baiklah kita terus meneguhkan dalam hati dan pikiran kita bahwa, aku suami atau isteri yang baik, Aku adalah pekerja yang rajin, aku adalah umat yang taat, aku adalah warga gereja yang melayani, aku sebagai murid yang disiplin.


Minggu, 19 Februari 2017

IMAN ABRAHAM.

IMAN ABRAHAM.

Related image                    Beriman dapat pula dikatakan percaya. Percaya yang bagaimana? Bukankah semua manusia yang berpikir percaya akan sesuatu? Orang beragama dan tidak beragama semuanya percaya akan sesuatu, lalu dapatkan kita katakan bahwa semua orang yang percaya sesuatu adalah orang beriman? Tidak! iman tidak berbicara mengenai percaya bahwa hari esok akan ada, lalu terbukti. Percaya pada hal-hal makan minum atau percaya asal percaya.
                              Percaya yang dimaksud beriman adalah percaya yang menyangkut sesuatu yang Illahi. Proses  akan yang Illahi ini melibatkan seluruh keberadaan hidup manusia, tentunya menyertakan pikiran, hatinya, masa lalunya, harapannya akan masa depan, semangatnya.
Kedua. Percaya yang dimaksud adalah percaya yang Ilahi dan akhirnya yang dipercayai itu akan mempengaruhi seluruh hidup, yaitu merubah pola pikir, mempengaruhi perasaannya, mempengaruhi cara berperi laku, memberikan harapan untuk kehidupan saat ini dan kehidupan kekal. “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Apa hubunganya percaya kepada Allah dan kebenaran.
Percayanya Abraham kepada Allah adalah suatu perbuatan radikal, dimana di tempat Abraham hidup orang tidak mengenal Allah, demikian juga Abraham. Tetapi ketika Allah datang kepadanya dan berfirman, Abraham percaya kepada Allah.

       Proses percaya Abraham kepada Allah adalah proses melepaskan dan menerima sesuatu. Melepaskan dan menerima adalah siatuasi yang sangat sulit, ketika kita dituntut untuk melepaskan sesuatu kebiasaan yang telah membuat kita nyaman selama bertahun-tahun, dan sulit ketika dalam proses percaya itu kita dituntut untuk menerima sesuatu yang diluar kehendak kita, sesuatu yang membuat kita tidak nyaman, sesuatu yang menuntut tanggung jawab yang besar. Dalam proses percayanya kepada Allah, Abraham dituntut untuk melepaskan hal-hal yang sangat sulit dilepaskan oleh banyak manusia. Ia harus meelepaskan dewa-dewanya, agamanya yang lama, Abraham harus meninggalkan sanak keluarganya, meninggalkan tanah airnya dan menjadi seorang pengembara dalam tuntunan Allah ke tempat yang dia sendiri tidak ketahui. Proses melepaskan yang terbesar yaitu ketika Allah meminta puteranya yang sangat lama telah dinantikannya dari Allah, iapun bersedir mempersembahkan anak itu kepada Allah dan tetap percaya kepada Allah. Apa yang dilakukan Abraham adalah suatu proses melepaskan yang radikal dan total.
percayanya Abraham kepada Allah adalah proses mengenakan dan menerima, yaitu meneriman Allah sebagai satu-satunya Allah dan Allah yang berdaulat dalam hidupnya, Abraham haarus melepaskan cita-cita dan mulai menerima rencana Allah secara total dalam hidupnya. Abraham harus meninggalkan keluarga dan tanah leluhurnya dan mulai mempercayai bahwa Allah akan menganugerahkan keturunan yang banyak kepadanya, bahkan ketika isterinya telah menepous dan ia sendiri telah berusia seratus tahun, ia tetap percaya pada janji Allah itu.

Iman Melahirkan Keberanian

Sekitar abad ke 4 M, Agustinus bapa gereja Barat menentang suatu kelompok dalam gereja yang diekenal dengan bidat Montanisme yaitu suatu kelompok yang dipimpin oleh Montanus, gerakan ini pada mulanya yaitu menentang para rahib dan pemimpin gereja yang waktu sebelum Konstantinus Agung menyatakan Kristen adalah agama negara pada tahun 312 M. Sebelum jaman Konstantinus Agung, orang Kristen mengalami banyak penyiksaan dan penganiayaan yang menjadikan banyak orang kristen menyangkal iman mereka karena ketakutan dan tidak sedikit diantara mereka adalah para rahib atau para imam. oleh karena itu Konstantinus Agung mengumumkan bahwa Kristen adalah agama negara, banyak orang Kristen yang dahulu murtad termaksud diantaranya adalah pendeta kembali menjadi orang Kristen. Para pendeta yang dahulu murtad inilah yang ditentang oleh Montanus, dan juga pendeta yang terlibat masalah moral, bahwa pelayanan mereka tidak sah. Selain banyaknya orang Kristen yang menyangkal imannya karena takut, juga sejarah telah membuktikan bahwa banyak orang Kristen yang melawan ketakutan mereka dan dengan tegas menyatakan iman percaya mereka secara terbuka dan pengerbanan mereka telah menjadi benih bertumbuhnya gereja-gereja Tuhan. 
Iman bukan hanya menjadikan seseorang diselamatkan, tetapi iman harus berdampak pula dalam kehidupan saat ini. Damai sejahtera adalah dampak dan tanda dalam kehidupan sehari-hari orang beriman. Ketika Tuhan Yesus akan naik ke surga maka Ia mengatakan “damai sejahtera-Ku Ku tinggalkan bagimu”.
Dosa membawa dampak yang kontras dengan iman, yaitu mengakibatkan “ketakutan”. Tak ada sukacita, sukacita dan damai dalam ketakutan. Hanya satu jalan untuk memperoleh damai sejahtera yang sejati yaitu iman kepada Yesus Kristus, tetapi ada berbagai macam cara dan jalan bagi ketakutan merasuki hidup kita. Takut kekurangan, takut terhadap masa depan, takut memulaikan sesuatu. Dari semua kketakutan itu, satu ketakutan yang sangat berbahaya yaitu takut memikul konsekuensi iman, atau takut menyatakan kebenaran, itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus mengatakan “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mat. 16:24)”, dalam arti bahwa banyak orang yang mau mengikut orang tetapi sedikit orang yang mau menanggung konsekuensi ikut Yesus.
Dalam Ibrani 11: 23 tercatat orang tua Musa sebagai saksi-saksi iman, dimana yang mereka lakukan adalah menyembunyikan Musa selama tiga bulan setelah ia lahir, walau pada akhirnya mereka tidak bisa lagi menyembunyikan Musa dan menghanyutkannya di Sungai Nil, tetapi apa yang mereka lakukan selama tiga bulan adalah suatu tindakan iman yang sangat besar yaitu “keberanian”. “Karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja (Ibr.11:23b). Iman membangkitkan keberanian keberanian untuk berpihak pada kebenaran Allah, keberanian yang rela menanggung konsekuensi mengikut Yesus, walau konsekuensi itu adalah salib dan penyangkalan diri, tetapi hanya inilah jalan satu-satunya untuk mendapatkan damai sejahtera yang sejati. Keberanian iman menyingkirkan ketakutan yang menggerogoti damai sejahtera  dalam diri.
  


Jumat, 27 Januari 2017

MORONENE DAN DEMOKRASI



MORONENE DAN DEMOKRASI



Demokrasi telah menjadi salah satu alat pengukur kemajuan suatu peradaban, Menurut penulis bahwa  demokrasi adalah alat dan bukan tujuan. Indoesia sebagai negara demokrasi telah meletakkan tujuan bangsa Indonesia pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan demokrasi adalah alat yang menuntun bangsa Indoensia meraih cita-cita itu.  
Moronene adalah salah satu bagian dalam keragaman bangsa Indonesia. Indonesia seharusnya diwarnai oleh setiap kekayaan kearifan lokal suku-suku yang berada di Nusantara ini. Pertanyaan penting dala kontek ini adalah: Kearifan lokal apa yang dimiliki suku Moronene untuk mewarnai demokrasi di bangsa ini? Pertanyaan kedua yaitu apakah Moronene memiliki konsep demokrasi yang khas dan bagaimana konsep itu diaplikasikan?
            Dengan data yang sangat terbatas, keterbatasan ini pertama-tama diakibatkan oleh tidak adanya budaya menulis dalam budaya Moronene, walaupun ada, hal itu baru saja dimulaikan akhir-akhir ini. Suku Moronene masih berada disekitar budaya oral sebagaimana yang tertuang dalam berbagai sastra oral Moronene diantaranya adalah “Kada,
            Memulaikan tulisan singkat ini pertama-tama penulis telah mengajukan beberapa pertanyaan kepada anak-anak Moronene mengenai beberapa hal yang dapat menolong  penulis untuk memahami bagaimana konsep Moronene mengenai demokrasi. Pertanyaan yang diajukan diantaranya berkisar pada sistem pemerintahan kuno yang berada di Moronene dengan mendefinisikan beberapa sebutan yang ada di Moronene diantaranya adalah “Apua dan Mokole”. Dari pertanyaan yang diajukan, secara umum jawaban yang diberikan bukanlah jawaban jawaban dalam kearifan lokal Moronene.
            Berdasarkan wawancara  penulis beberapa tahun yang lalu terhadap Alm. Idrus Kunjeng, penulis mendapat suatu definisi dan cerita (tradisi oral) mengenai sejarah kerajaan Moronene. Bahwa pada mulanya orang Moronene tidak mengenal yang namanya Raja atau yang kita kenal saat ini dengan sebutan “Mokole dan Apua”, tetapi kesadaran akan perlunya dinamika hidup bersama dan kemungkinan besar atas dasar pengamatan kepada etnis lain, maka mendorong kumpulan masyarakat Moronene untuk mengangkat pemimpin diantara mereka yang dimulaikan di sekitar pegunungan Rarowatu. Dalam wawancara itu, narasumber mengatakan “sawali na motongo, kando binta nde’e koie Mokole kando lako hai Lakomea”. Rakyat meninggalkan pemimpin yang mereka telah angkat dan akui di wilayah Rarowatu dan mengangkat pemimpin yang baru disekitar wilayah Lakomea.  
            Narasumber mendefinisikan “Mokole” dalam dua kata penting yaitu “moko leleno”, dalam bahasa Moronene “moko” adalah suatu kata sifat tetapi aktif dan memiliki tensis presen, contohnya “mokotundu (sedang dalam keadaan mengantuk)” mokolaro (berhati baik). Kata yang kedua adalah “leleno” dari kata dasar “lele” (kabar) dan “no” (seubejek pelaku). Maksud dari kata “mokoleleno” bahwa seseorang memiliki kabar yang baik atau seseorang yang memiliki integritas yang telah terkenal baik oleh semua masyarakat. Oleh karena itu dapat kita simpulakan bahwa “mokole” dalam pemahaman kuno Moronene, adalah seorang yang berintegritas mulia dan terpercaya sehingga ia layak untuk diangkat dan ditahbiskan menjadi pemimpin. Kata “mokoleleno” akhirnya menghasilkan kata berikut yaitu “leeno mokole” (silsilahnya adalah Mokole/seorang yang berintegritas). Oleh karena itu dari kata ini dapat kita sempulkan bahwa memilih pemimpin dalam budaya demokrasi Moronene kuno bukanlah berdasarkan silsilah sebagai keturunan ningrat, tetapi berdasarkan integritas yang telah terbukti dan juga memiliki latar belakang keluarga yang berintegritas.
Pertanyaannya berikut adalah: bagaimana proses pemilihan dan dan pengangkatan seorang pemimpin dalam budaya demokrasi Moronene? Dalam budaya demokrasi Moronene dikenal yang namanya “Limbo” (rakyat), Limbo ini telah diwakilkan oleh beberapa orang yang diangkat oleh rakyat untuk mewakili mereka berdasarkan wilayah, yang dikenal dengan “kapala”, mereka inilah yang akan memilih seorang pemimpin berdasarkan kualifikasi “mokole” diatas. Keberadaan para kapala ini merupakan wujud dari permusyawaratan perwakilan, jauh sebelum sila ke empat pancasila dibentuk. Oleh karena itu, integritaslah yang menjadi ukuran seorang raja di Moronene untuk terus dianggap sebagai raja atau pemimpin, bukan silsilah. Dukungan dan pengakuan  sebagai pemimpin yang sah dapat diambil kembali oleh “Limbo” jika integritas seorang pemimpin telah ternodai. Selamat berpesta demokrasi di Wita I Moronene. Tulisan ini sangat memerlukan sanggahan. Surabaya, 26 Jan 2017. Wem Hendra


Sabtu, 24 September 2016

BERKORBAN.





Salah satu penyebab terganggunya hubungan dalam rumah tangga, hubungan suami dan isteri, orang tua dan anak, yaitu "hilangan pikiran dan nilai pengorbanan". Kenyataan para suami menuntut banyak kepada isteri, begitu pula isteri menuntut  perlakuan khusus dari suami, orang tua menuntut dari anak-anak mereka.
Mengapa tuntutan muncul? isteri menuntut kepada suami, suami menuntut isteri, orang tua menuntut anak-anak? karena setiap pihak berpikir bahwa ia telah melakukan "pengorbanan" kepada pihak yang lain. Suami merasa bahwa ia telah berkorban banyak bagi isteri, istripun demikian, orang tua merasa telah berkorban banyak bagi anak-anak, sehingga banyak orang tua yang demikian emosi jika anak-anak tidak menuruti keinginan mereka.
Penulis bertanya kepada kaum pria dalam persekutuan kaum pria, apakah mereka telah "berkorban" bagi rumah tangga mereka? dengan  suara bulat semua bapak mengatakan "ya!", lalu penulis terus bertanya pengorbanan apa yang telah mereka lakukan? sepakat pula bahwa mereka telah bekerja sekuat tenaga untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka, juga mereka sepakat bahwa mereka telah sekuat tenaga membesarkan anak-anak dan menyekolahkan mereka. Penulis melanjutkan pertanyaan: "apa perbedaan antara pengorbanan  dan tanggung jawab ?, bukankah bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga adalah tanggung jawab suami dan isteri yang bekerja bersama? bukankah ketika orang tua membesarkan anak-anak dan memberikan pendidikan terbaik kepada mereka adalah tanggung jawab?
Suami dan isteri, orang tua, harus mampu membedakan antara "tanggung jawab dan pengorbanan". Tanggung jawab adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh seseorang, sementara pengorbanan adalah sesuatu yang baik yang dilakukan seseorang walau tanpa ada keharusan. Tanggung jawab, adalah sesuatu sebab akibat dari posisi yang diambil seseorang. Contoh seorang pria yang telah memutuskan untuk menikah, maka dengan sadar ia telah  mengetahui tanggung jawab atas  setatus yang diambilnya yaitu, suami, kepala rumah tangga, ayah, dan tentunya ia memperoleh manfaat-manfaat dari setatus itu.
Pengorbanan yaitu ketika seseorang tidak memiliki posisi dan hubungan, terhadap sesuatu, serta tidak ada kewajiban untuk melakukan sesuatu, tetapi ia melakukannya, dan ia tidak menerima upah apa-apa dan manfaat apa-apa bagi dirinya sendiri dari apa yang dilakukannya.
Tanggung jawab selalu berhubungan dengan hak, tetapi pengorbanan tidak. Tanggung jawab adalah sesuatu yang harus dilakukan seseorang karena ia telah menerima sesesuatu, berupa status, manfaat pisik, moral dan kehormatan bahkan materi. Seorang suami melakukan tanggung jawabnya sebagai suami karena ia telah menerima manfaat dari setatusnya sebagai suami, ia memperoleh teman hidup yang membebaskannya dari rasa sepi, teman hidup yang membebaskannya dari gairah seksual, teman hidup yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya sebagai pria. Ketika ia harus bekerja memeenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangganya maka ia memperoleh manfaat kebanggan dari itu. Demikian pula dengan para isteri melakukan segala sesuatu karena ia telah memperoeleh banyak manfaat dari setatusnya sebagai seorang isteri.
Implikasi dari tanggung jawab yang dilakukan  yaitu seseorang tidaklah harus mendapat pujian bahkan puji diri, tidak berak meminta lagi sebab ia telah memperoleh sebelumnya, tidak harus menuntut lagi sebab ia telah mendapatkan manfaat sebelumnya.
Seorang suami, isteri, orang tua yang berkorban adalah mereka yang melakukan sesuatu yang terbaik bagi keluaarga mereka, kelurga besar, orang lain dialuar tanggung jawab yang seharusnya mereka lakukan, melakukan sesuatu melebihi tanggung jawab yang seharusnya mereka lakukan. 

Liturgi Ibadah Raya Minggu

  1.   AjakanBeribadah: "Datanglah dekat dan dengarkanlah firman TUHAN, Allahmu." "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bah...